Prolog
Sore itu sebuah rumah berarsitektur Rumah Meranjat ramai dengan jerit tangis, rumah yang tebuat dari kayu manggerauan penuh sesak oleh orang-orang desa berkerudung hitam. Istri dari seorang tokoh terpandang di desa itu meninggal dunia tanpa diketahui penyebabnya.
Tulisan “H. Ahmad Basri” terukir indah di atas pintu, depan garang yang tangganya melingkar oval ke lantai satu yang penuh dengan barang dagangan. Dalam sebuah rumah toko terbesar di desa itu, ada aura keluarga yang sangat disegani menyebar dari pesona rumah itu ke wajah-wajah pelayat yang sedih dan meneteskan air mata. Hari itu sang istri seorang dermawan di desa mereka telah meninggalkan mereka untuk selamanya.
Alunan surah Yasin menggema. Sang dermawan hanya terdiam di kursi rodanya, tetesan air matanya berderai meniti barisan bulu mata yang mulai lelah dan termakan usia. Dalam kedukaan, tampak seorang anak kecil sibuk mengusap rambut sang ibu yang terbaring kaku dengan lembutnya, menurutnya dalam hati malam itu ada yang tampak berbeda dengan ibunya…
“Mungkin Bunda mau gantian neh, biasanya kan Bedewa Belidah yang sering di gituin Bunda?” nasehat sang kakak kepada adiknya Bedewa Belidah yang sedari tadi memelas untuk pergi dari kewajibannya menidurkan Bundanya.
malam mulai meranjak menuju peraduan. Sang ayah termangu menatap rembulan dari atas kursi rodanya, perlahan asap rokok keluar dari hembusan mulutnya. Kebiasaan yang sudah 5 tahun tidak menyentuh bibirnya yang kecoklatan, sebuah perjuangan untuk tidak membiarkan kemarahan keluar dari wajah istrinya.
ketika sinar rembulan mulai pergi meninggalkan bumi, gerimis hujan menghantarkan sepasang kekasih ke dalam eratnya pelukan tanah merah. Sepertinya hujan tidak perlu datang, karena tetesan air mata semua rakyat desa berceceran di atas bumi yang hening ditelan sebuah kedukaan yang mendalam.
Anak kecil itu masih tegak diatas garang dengan tangannya menadah tetesan gerimis dari langit.. hari ini bunda dan ayahandanya udah pindah rumah…
bersambung ke… Chapter 1 untaian sutra kasih bunda
September 10th, 2008 at 11:45 pm
Nendang bos !
lanjuuuuut…
September 11th, 2008 at 7:59 am
thanks pak Ketua
mohon bimbingannya
September 12th, 2008 at 11:09 pm
fis..
sekali2 masukin aku dalam tokoh cerpen ya..
*ngarep
September 12th, 2008 at 11:11 pm
wew…aku masukin ntar..
nanti ada peran untuk bibi jamu…
huhahahahah
September 12th, 2008 at 11:11 pm
September 12th, 2008 at 11:30 pm
makasih Tia
mohon bimbingannya…
September 13th, 2008 at 1:18 am
uhmmm… prolog memang selalu memancing rasa ingin tahu… terusannya?
September 13th, 2008 at 4:22 am
hmmm… bagus kak Jafis. Apalagi kalau prolognya digambarkan suasana duka ibu. Aku juga ingin belajar buat cerpen ah..
September 13th, 2008 at 7:20 am
#arfi
lagi dibuat neh mbak…lumayan buat mengisi kekosongan.
#deasgirl
iya…ayo kita belajar
terkadang menulis opini terus di Blog membuat kita bosan..
nah kenapa tidak belajar buat cerpen yang bersambung…
jangan lupa sisipkan pesan sosial didalamnya