Demon Journalist (PoH Chapter 3)
Dinginnya angin malam menyapa rambutku yg tergerai sebahu, sudah sejam lamanya aku berdiri tegak diatas loteng tempat kost baruku, semenjak kematian Acha aku memutuskan menghapus jejak, hanya mbak kiko yang tau keberadaanku.
Rembulan berwarna orange terlihat menggantung di langit-langit kota. Awan mendung tiba-tiba menutup kubah langit kota ini. Dikejauhan terdengar lolongan anjing-anjing lapar. Kubuang rokok kretek yang sedari tadi kuhisap. Mataku tajam menatap kejauhan.
Sesekali petir menyambar dikelamnya langit malam. Kilatnya seolah berdansa dengan galaunya hati. Mengaduk perasaan yang tak kunjung reda gelisah.
Aku semakin larut dalam diriku sendiri. Kenangan tentang cerahnya mentari bersama Acha dan semakin menyeretku dalam amukan badai jiwa.
langkah demi langkah kuselusuri sisi gelap dari kota ini, ntah kenapa sinar matahari mulai asing bagiku dan temaramnya lampu mulai bisa mengisi relung hatiku yang pekat.
Kretekku hampir habis saat kutiba disebuah kelab malam. Penerangan yang remang-remang serta tawa centil kupu-kupu malam menyambutku masuk. Aku, sang demon’s journalist akan menginterview seorang anak neraka, disini.
“ren…” sebuah sapaan lembut dan kerlingan genit menyambutku.
Disela-sela hiruk pikuk pengunjung kelab malam, sesosok tubuh lencir nan sexy dalam backless gawn menghampiriku. Dia, Lin Hua, hostess kelab malam ini. Informanku. Dialah penghubungku dengan aktor dibalik kematian Acha. Aku mengenalnya lewat mas Made.
“Seperti biasanya, kau nampak cemerlang Lin..” rayuku pada Lin Hua. Bentuk basa-basi dan sopan santun yang berlaku didunia temaram ini.
“Dan kau, tampak jantan sekali, jagoan…” balas Lin Hua sambil menggamit lenganku. “Kau sendiri, Ren ?”
Ow s***t, makiku dalam hati. Kini semua orang memanggilku Ren, bukan Fiz lagi. Pikirku.
“Kau mengharapkan pria lain, Lin ?” aku balik bertanya sembari menjawil dagu Lin Hua.
“Tak mungkin, pejantanku..” jawab Lin Hua sambil tertawa genit. Perlahan Lin Hua yang menarikku, menuju keruangan bagian dalam. Tempat yang lebih sepi, dan lebih temaram. Ruangan yang penuh semerbak dengan wangi parfum Lin Hua.
Ruangan itu adalah ruangan khusus untuk tamu VVIP. Didalamnya bahkan tersedia bar kecil. Sebuah sofa besar bahkan tersedia di tengah-tengah ruangan.
Sesosok tubuh pria gemuk berbusana perlente terlihat mabuk disofa itu. Dalam temaram sinar lampu terlihat wajahnya yang memerah. Bibirnya meracau perlahan.
“Ren, kupersembahkan…” Lin Hua membungkuk ala bangsawan Prancis memberikan upeti kepada Napoleon. Tangannya mengembang tertuju kepada pria itu. “Otaknya sudah mabuk Screwdriver, kau bisa tanyai dia apa saja…”
“Thank You, My Dear Lin…” sahutku sambil menghampiri pemabuk tersebut. Tak lupa, kunyalakan audio recorderku. Aku tak ingin kehilangan sekeping informasipun darinya.
“Ah ! Kalau begitu kutinggalkan kalian berdua.” tukas Lin Hua. Sembari menutup pintu dia berujar “Ren, kau harus bayar double … ” Dia berhenti sejenak, mengerling nakal, dan berbalik. Perlahan punggung sexynya menghilang ditelah temaramnya cahaya.
Aku tersenyum tipis. Kuambil kretekku, dan kuhembus perlahan. Waktunya menginterview sang ‘anak neraka’.
Tiga jam kemudian…
Disebuah cafe ditepi pantai.
Dini hari telah berlalu. Sebentar lagi subuh tiba. Aku dan Lin Hua duduk disebuah cafe pantai. Disekitarku ramai wisatawan asing berkumpul dengan kesibukannya masing-masing.
Aku duduk menghadap pantai. Didepanku Lin Hua duduk sambil menikmati kreteknya. Busananya masih seperti semalam. Tak tampak gurat kelelahan diwajahnya. Wajah cantiknya masih berseri. Dan pandangan nakalnya masih liar berkelana.
Rasanya akhir-akhir ini aku jadi perokok berat, kataku dalam hati. Kuhembuskan kretekku perlahan. Dan kukeluarkan selembar amplop besar. “Lin, ini paymentmu. Informasi yang kau minta. Semuanya telah lengkap.” Kuletakkan map besar itu dihadapannya.
Lin Hua melirik tak acuh. Perlahan dia mereguk minumannya. “My Demon Ren.. bagaimana denganmu ? Kau sudah kuras informasi dari monyet pemabuk itu ?” Dia menatapku dengan gaya nakalnya.
“Thanks to you, Lin. I got a lot.” Aku bangkit berdiri. Pagi hampir tiba. Dan ini, pertanda bagi sang demon untuk kembali ke sarang. “Aku pergi dulu…” kataku kepada Lin Hua.
“Hmmm..” jawab Lin Hua tak acuh.
Dan berakhirlah pertemuanku dengannya. Pertemuan antara sang demon dengan hell angel.
Malam hari …
Aku berdiri tegak diatas loteng tempat tinggalku. Kembali menatap rembulan. Dan mendengarkan bisikan angin. Kembali mendengarkan lolongan anjing liar. Dikupingku, terdengar seperti lolongan serigala liar.
Kutanganku tergenggam selembar KTP dengan identitas baruku, Rendi Demoninte. Identitas baru sebagai penyamaranku.
“ceprettt…”ku bidikan kameraku kearah lampu-lampu kota yg tersebar riak tak beraturan,” this is me taking control of my life, what the fuck have you done lately?”gumamku lirih.
Angin malam yang dingin mencekam menerpa lensa Nikon D300 ku. Perlahan kumasukkan kamera itu dalam casenya. Pekerjaanku masih banyak. Dan agenda ku tidaklah ringan. Kuingin melumat semua penyebab luka dihati ini. Sebesar apapun kalian, aku tak peduli.
“errtthh…erthhh”Handphoneku bergetar,” halo.. mbak kiko?”
“Ren, aku dapat yang kau minta. Check emailmu.” Dan klik! Sambungan di tutup.
sebuah foto mobil troofer terpotong nggak sempurna meninggalkan lokasi tabrakan. “Hah ini kan vespa gua!”jeritku keras.
“Have they known that I’m chasing them right now ? I need to make sure, before I’m pushing them harder into corner…” replyku kepada mbak Kiko. Tak lupa kupastikan tombol encrypt telah active sebelum email itu terkirim.
kucubo membuka lembaran koran suara rakyat yang aku beli siang tadi, seorang pengusaha tersenyum segar meresmikan sebuah apartemen mewah didampingi seorang pejabat teras ibu kota.
Aku tersenyum dingin. Orang ini targetku ! Sebagian aibmu sudah kupegang. Beberapa fakta akan kukejar. Karena nafsumu, banyak orang menderita. Karena nafsumu, I lost my beloved one….
jam ditanganku berdetak pas pukul 24.00, sudah saatnya untuk bergerak menuju kelab malam Lin Hua berada.
Kembali, kususuri jalan-jalan sepi berhias angin malam. Dimana suara lolongan anjing terdengar seperti lolongan serigala berburu. Recorder dan jaket panjang yang kini menjadi teman setiaku, tak lupa kubawa serta. Aku serigala, dan ini perburuanku.
angin malam menyayat mendidihnya dendam di hatiku,”apakah semua ini benar?erghhh walaupun salah?aku tidak bisa kembali lagi ke belakang!”langkah kakiku semakin mendekati kelab malam yg di depannya berderet parkir mobil mewah.
Yeah,.. it’s too late to return to my old self. Kumasuki sebuah kelab malam yang akhir-akhir ini menjadi tempatku menghabiskan malam. Tempatku menjaring informasi. Tempatku menebar jejaring balas dendam.
“Wohoo.. Ren-dy! Senang melihatmu lagi !” Sapa Richard, sang bartender.
“Ow… Lelakiku.. apa yang kau kehendaki malam ini, dar-ling ?” sapaan genit Lin Hua yang sudah sangat kuhapal. Tubuh lencirnya segera melayang kearahku.
“yeaa…how are you man?”kuhantamkan tanganku ke bahu Richard” tequila aja dehh…!”derai tawa seorang executive muda sedikit menyita perhatianku,ada sosok yang begitu kukenal disampingnya.
“..Ouch !!”
“Ren,.. jangan menarik perhatiannya terlalu banyak.” komentar Richard seolah memahami isi benakku. “He is jerk.. “, Richard melanjutkan sambil mengelap gelas minuman. “dua puluh tahun menjadi bartender, aku bisa tahu watak orang dengan sekali lihat.”
Lin Hua masih menggelayut manja di tanganku. “My Man, Ren, Don’t you have any word for me ?” Tanyanya sambil cekikikan. “Kau ngobrol terus dengan Richard tanpa menyapaku satu patah katapun.”
“OH, My Bad, Lin Hua, My Woman. Do you feel jealous ?” kataku meladeni Lin Hua. Setidaknya aku punya alasan untuk mengalihkan pembicaraan.
Tangan Lin Hua mendadak sudah melingkar di leherku. Wajahnya begitu dekat. Dan nafasnya terasa harum melenakan. “Apa yang akan kau lakukan, kalau ku jawab :Ya, My Man ?”
Aku mendadak gugup. Bayangan Acha sekilas terbayang dibenakku.
“Ow… kau gugup, Ren ?” tawa Lin Hua. “Then you must be my real man… dar-ling”
“what the F*** have you done lately?”suara lelaki keras bergetar, tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di pipi Lin Hua.
Sesaat, Lin Hua terpelanting kebelakang.
Wajah Lin Hua tertunduk. Namun mendadak, Lin Hua menyambar sebuah baki dan menghantamkannya ke arah pria itu. “Moron !!!” Umpat Lin Hua marah. “Apa mau mu ?” Tiba-tiba sepucuk botol pecah telah berada didalam genggaman Lin Hua.
beberapa lelaki memakai jas hitam beranjak cepat dari tempat duduknya.
Aku terperangah, sebuah kejadian yang tak terduga. Dan perkembangan ini … semakin tidak menguntungkan untuk misiku, mengorek informasi,
Kepalang basah, pikirku. Perkelahian dalam kelab ini tak akan begitu saja berhenti. Aku harus lindungi Lin Hua. Masih banyak bantuan yang aku perlukan darinya.
Kulirik para lelaki itu. Ketika aku merasa telah menemukan orang yang terlemah, segera kulayangkan seranganku.
Sebuah botol bir besar kuhantamkan ke wajahnya. Dia terhuyung.
Sedikit berbalik, siku kakiku telah bersarang di dagu rekan di sampingnya. Sebuah teknik thai-boxing yang kupelajari di kampus.
Tak mau berhenti disitu saja, biang kerok masalah ini harus menerima ganjarannya, pikirku. Dan kuambil sebuah kursi yang segera kuhajarkan ke wajahnya.
Sayang, salah satu dari orang-orang tadi masih sempat menangkisnya. Seolah sang abdi melindungi tuannya, dia korbankan punggungnya sebagai perisai.
Brak… !!! Kursi itupun terbelah. Orang tadi terkapar.
“bedebah kau …”sebilah pisau dilayangkan jerk ke arahku.
Woah… itu bahaya.. pikirku. Reflek aku mundur.
Sedikit panik, mataku mencari-cari barang apa saja untuk pegangan. Dan kuraih sebuah baki kosong dari depan Richard. Sekadar perisai perlindungan.
“Ren, tagihannya kumasukkan bon mu ya..” keluh Richard. Namun ia malah menyodorkan sebuah tongkat billyard kepadaku. “Yang ini juga, nanti kau bayar, ya Ren..”
Lengkap sudah. Baki sebagai perisai. Defensif ! Dan tangan kanan menggengam tongkat billyard. Ofensif ! Sedikit bluffing, kumainkan tongkat billyard ini dengan lagak arogan.
Semoga dia sedikit ciut dengan aksiku ini. Demikian pikirku dalam hati. Terus terang aku ngeri juga membayangkan benda menembus tubuhku.
Sejenak, sepertinya bluffingku berhasil. Namun, besarnya ego telah membuatnya gelap mata. Pisaunya berkelebat ke arah aku dan Lin Hua. Dia menyerang membabi buta.
Dengan pontang-panting kucoba bertahan dengan baki tersebut.
“api…api!”raungan suara richard menghambur ke arah sofa yang sudah terbakar.
Aku terkejut.
Dan lengah.
Dan kurasa, itu salahku.
Kulihat pisau si brengsek itu telah berpindah tempat.
Si Brengsek itu sudah tidak ada lagi didepanku. Dia kabur. Sementara Lin Hua, duduk terduduk sambil memegangi perutnya. Sebilah pisau menancap. Dan itu milik si brengsek itu.
“Lin Huaa….”aku menghambur ke arah Lin Hua, sementara suasana ruangan mulai panas karena api yg makin membesar.
Lin Hua hanya menatapku dengan pandangan ketakutan. Dan itu membuatku semakin khawatir.
Keringat dinginku mulai mengucur. Rasa trauma itu mendadak menyembul ke permukaan.
Tidak…
Ini bukan saatnya… Ini kesempatan menyelamatkan.. Acha..? Ah… jangan sampai aku berada dalam kondisi tak berdaya untuk menyelamatkan nyawa orang lain lagi…
.. Aku tak ingin berada dalam posisi menyedihkan itu lagi … Sekarang saatnya.
Kubopong tubuh lencir Lin Hua keluar. Dia harus selamat. Kematian itu terlalu menyakitkan bagi yang ditinggalkannya.
Dan aku berlari, frustasi dan ketakutan, sambil membawa Lin Hua.
Berlari dan berlari, hingga akhirnya aku berhenti di sebuah klinik bersalin di blok sebelah kelab milik Richard.
Sebuah klinik yang biasa digunakan oleh para kupu-kupu malam mengecek kandungannya.
“Maafkan, aku Lin Hua.” kataku pelan penuh ketakutan. “Saat ini, tempat ini lah yang paling memungkinkan untuk menyelamatkan jiwamu..”
Lin Hua tidak menjawab. Kesadarannya mungkin sudah berlalu sejak tadi …sebuah asa kucoba tanamkan di benakku.
bersambung ke Chapter 4 “Villain Love“