Unspoken Love (PoH Chapter2)
Ketukan pintu yang tidak asing itu, menyadarkan mataku yang dari tadi memandangi sebuah foto alat-alat berat di lokasi kebakaran yang saya ambil siang tadi.
“ren…ini acha?” suara tweety kecil itu membuat dahiku mengkerut,”sebentar - sebentar, nggak sabar amat sehh!”
“lama amat seeehhh ren?”ujar Acha dengan mendaratkan cubitan kecil di pipi Ren,
Rasa sakit yang tiba-tiba menyengat, membuatku sedikit shock. “Hwadaaaah !!” Ternyata Acha bandel mencubit jerawat batu yang tumbuh dengan nakal di wajahku. Sakitnya terasa hingga ke susunan otak kecilku.
“Ren, s-a-y-a-n-g, bukannya aku bermaksud buying dirimu..” binar mata bengalnya kembali bersinar. “sungguh aku tak tahu kalo disana tumbuh jerawat… Tapi aku suka lihat reaksimu” Dia berhenti sebentar sambil melihat ekspresi sakit campur dongkolku.
“.. vampir…” gerutuku sambil membuang muka ke kanan. Bullying ? Sepertinya memang kamu enjoy banget ‘mengganggu’ dan bullying diriku.
Sontak Acha `menyerangku` kembali. Kali ini kuping kiri yang menjadi korbannya. “Itu bukan sambutan yang ku harapkan Ren….”, suara Acha terdengar sexi.
“Nih, aku bawakan kau Pizza Pepperoni. Khusus untukmu, yang porsi supreme..” kata Acha sambil menyodorkan bungkusan itu.
“Waaah… terimakasih Acha…. You are my saviour. Aku laper banget lhoo..” Sorak ku dengan penuh suka cita. Acha nraktir ? Kedengarannya koq aneh ya ? Bukannya duit dia telah habis semua disumbangkan ke korban bencana tadi siang ?
“By the way, Ren… Ini amplop bonusmu dari bigbos kita, Mbak Kiko titipin ke aku buat kamu…” sodor Acha.
Dititipin ke Acha ? Sontak aku pucat. Keringat dingin menjalar ke kuduk dan sekujur tubuhku… Jangan-jangan…
“Jangan khawatir, Ren. Supreme pizza tadi cuman seratus ribuan doang koq, sisa bonusmu masih banyak….” derai tawa Acha begitu polosnya …
“Aaaaaaarghhh…. !!!!” Sudah kuduga…. vampir ini …..
Sodoran potongan besar pizza yang dibarengi dengan senyum manis plus pandangan ala seorang dewi dari Acha, membuatku seperti kerbau dicocok hidung. Dengan tertawa-tawa, Acha juga mengambil potongan yang lain. Kami makan bersama. Moment yang aneh.
“Ren, baru kutahu kalo makan mu kayak bayi… remah-remah pizzanya jatuh kemana-mana.”
“Cerewet!” sahutku ketus. “Sigh dua manusia dewasa dengan pola hubungan yang mirip abg nanggung, menyedihkan”, batinku berkata. Dan herannya, sepertinya aku menikmati suasana ini.
“eh ..sabar dong!”Acha mengambil paksa potongan pizza terakhir yang sudah di pegang Ren,”hi hiks..nih jatah preman yaa!”ujar Acha tanpa menghiraukan wajah Ren yang merah menahan sebel.
Sepuluh menit kemudian, makan malam usai sudah. Pizza sudah habis. Dan kami kenyang. “By the way, Cha. Kamu dateng kesini bukan sekadar menyampaikan amplop dan pizza kan ? Ada apa?” Tanyaku.
“halah ..sok nggak butuh lo Ren”ujar Acha sambil mencubit pinggangku “ehh sakit tau !”jeritku keras.
“Hee….?” kerling bandel Acha muncul kembali. Entah ide nakal apa yang muncul dalam otaknya, “Ren juga bisa sakit ?” keempat jari kirinya menggelitik rusuk kananku.
“Stop…!”jerit ren kepada Acha,”yuk..kita edit liputan siang tadi!”Ren menarik tangan Acha menuju komputer yang dari tadi menampilkan foto sebuah alat berat di belakang lokasi kebakaran.
Acha, gadis tomboy itu bersiul. Dia memandangku lekat-lekat. Tanpa sadar, kami membuat ekspresi wajah yang sama. Dan serentak berkata “..conspiracy theory..”
“mulutmu bau amat seh Ren!”ujar Acha dengan ekspresi cemberut “nih tak kasih lagi ..Hah!”
Aku cemberut mendengar komentar Acha. Dasar gak bisa diajak ngobrol serius.
“ehh..kasihan juga yaa Ren ibu tua itu “Acha menyandarkan kepalanya ke bahuku”mana anaknya mo sekolah lagi, ntar tinggal dimana?”aku sejenak menghentikan ketikanku dengan memandangi Acha yg mendadak manja.
What the …..? Hatiku panik. Aku tak siap dengan ini. Aku lebih terbiasa dengan kejahilan Acha.
“mmm..antar Acha pulang sekarang yaa”rayu Acha memelas “lagian pizzanya udah habis.
Suara Acha memecahkan kesenyapan pikiranku yang mulai terbius harum tubuh dan wangi sampo yang Acha bawa. Mendadak wajahku memerah. “Iya..ya..” sahutku patah-patah. Dengan gugup kucari kunci motorku, namun.. duk.. aku tersandung. Dan terjatuh.
Dan kini, aku jatuh terduduk dibawah. Sementara Acha tergeletak di dekatku. Wajah Acha di perutku. Dan juga bagian penting dari Acha. Aku salah tingkah. Rasanya wajahku panas memerah.
Acha menatapku dengan sewot. “Tanggung—jawab! Antar aku pulang. You’ve hurt me.”
“O… Ok… Okay Cha. Pasti kuantar.” jawabku gugup sambil bergegas menyalakan motor bututku.
Dua puluh menit kemudian, kami sudah berkendara di jalanan kota menuju kost Acha yang berada dekat dengan kantor. Moment ini terasa aneh bagiku. Namun indah. Namun aku tak berani berprasangka lebih jauh. Aku bahagia, namun aku juga tak yakin.
Cinta, cinta, cinta…. semua yang kuimpikan ternyata sudah hampir diraih olehku. Acha sudah tidak memberontak lagi…
“katanya kebahagian itu seperti bayangan ya Ren?”Acha mendekatkan pipinya.”sulit diraih,tapi selalu mengikuti!”
Tentunya cinta itu selalu berkecamuk dalam dada Acha, semua sudah berlalu tanpa kenangan yang terpendam.
Feeling ini begitu indah. Acha, menyambut perasaanku. Rasanya …
Suara dentuman. Aku terhenyak. Sesuatu dari belakang menabrakku dengan keras.
Rasanya aku terlempar. Terhempas.
Kemudian terbanting ke tanah.
Acha….acha kau dimana? Otakku mencari-carinya. Bagaimana dengan dia ?
Linu dan sakit serasa merajam sekujur tubuhku dengan kejam. Aku panik. Acha dimana ?
Pandanganku kian pudar. Dan semakin pudar. Sakit, ngilu dan panik semua bercampur jadi satu.
Aku Mati ?
Gelap. Dan memori terakhirku…
lepas dari kesadaran…
“…save her.. !”
****.
Tiga bulan kemudian.
Aku berdiri memamtung. Hembusan angin terasa dingin menembus jiwaku.
Kosong ! Rasanya kosong sekali. Dan sepi.
Aku… perlahan terbunuh sepi. Sepi yang dingin menggigit.
Dibalik kacamata hitamku, terbaca rangkaian huruf-huruf yang mengingatkanku pada Acha. Taburan kembang nyekar terlihat begitu rapi dan ramai. Dadaku serasa di cabut paksa, tanpa aku bisa menolak.
Mendadak aku menggigil. Acha telah tiada … kataku meyakinkan batinku…
Rengkuhan tangan mbak Kiko serasa menarikku kembali ke alam nyata. Perlahan… kutinggalkan komplek pemakaman itu.
Aku… koma selama tiga bulan. Gegar otak akibat kecelakaan itu. Sementara Acha, mengalami pendarahan dalam yang fatal. Dia meninggal beberapa jam setelah kecelakaan itu.
Polisi menemukan beberapa sms teror pada hp Acha. Beberapa saat setelah kunjungan jurnalistik kami ke lokasi pemukiman yang terbakar.
Beberapa rekan wartawan yang kukenal melakukan investigasi terhadap kasus tersebut. Dugaan sementara, kami telah mengambil foto yang dianggap membahayakan pundi-pundi uang seseorang. Sepertinya kecelakaan itu di .. memang disengaja.
Demikian ringkasan singkat yang disampaikan Mbak Kiko kepadaku.
Aku hanya menatapnya tanpa ekspresi. “Thanks, bos” sahutku pelan. Kutatap meja kerjaku, dan meja mendiang Acha. Masih seperti dulu. Rapi dan teratur.
“So… she is really gone, uh ?” bisikku pelan.
Akiko Fatmawati, wanita karir yang biasa dipanggil mbak Kiko oleh anak buahnya itu hanya menggeleng lemah. “Tabahlah, Ren..”
“aku…”aku berenjak mendekati meja kerja acha” Aku harus selesaikan kasus ini mbak kiko?”aku memasukan sebuah bingkai foto Acha ke dalam tasku.
“Nope….” Akiko menggeleng. Dia menghisap kretek putihnya perlahan. “Kasus ini aku serahkan pada mas Made. Untuk sementara kamu dibelakang meja dulu…”
“Tapi mbak……”
“Ren..” Sahut Akiko dengan gaya bossy-nya. Rupanya mbak Kiko yang dulu biasa memanggilku dengan Fiz, telah tertular kebiasaan Acha memanggilku. “Kasus kebakaran kemarin… kau sadar tidak siapa yang kau hadapi ?”
Aku terhenyak. Logikaku mulai bekerja. Alat berat-SMS teror-Pembunuhan terencana.. Semuanya terjadi dalam tempo kurang dari 6 jam.
“Mereka sanggup mencari target dan melaksanakan pembunuhan dalam waktu singkat. Dan bahkan dengan modus yang sedemikian rapi, Ren ! Kau pikir ini pekerjaan preman pasar ?” argumen mbak Kiko sambil menghembuskan asap kretek putihnya.
“Kau pikir kriminal biasa sanggup menemukan kalian, menebak pola perjalanan kalian dalam tempo singkat, dan merencanakan eksekusi rapi tanpa jejak dalam waktu singkat ?” jelas mbak Kiko lagi.
“tapi saya tidak takut mbak?”aku ambil rokok yang masih menempel di bibir mbak kiko “toh aku juga sudah merasakan rasa kehilangan yg mendalam , apa lagi yang harus saya takuti”
“Keberanianmu berasal dari rasa takut dan putus asamu. Tak akan ada kemenangan diujungnya.” tandas mbak Kiko sambil menyalakan lagi sebatang kretek putih.
Aku terpojok. Kata-kata mbak Kiko menusukku tanpa ampun.
“Dan kau tahu… ? Sekalipun Samurai mati, mereka tetap berencana untuk menang mutlak.” argumen yang tajam dari mbak Kiko. “Dan aku belum melihat rencanamu untuk menang dalam kasus ini..”
Aku terduduk. Yah, dia benar. Kuhisap kretek bekas mbak Kiko tadi dalam-dalam. Ada kemarahan atas ketidakberdayaanku.
“tapi…”Akiko menepuk pundakku”makna yang terpenting dalam hidup itu terletak pada prosesnya, bukan pada hasil akhir!”
Mbak Kiko menepuk pundakku sambil mengedipkan matanya.. “UN-OFFI-CI-ALLY..”
aku terperanjat gembira. semangat.
“Thx mbak Kiko..” Kataku sambil memeluknya..
mbak Kiko tertawa.
“Hey.. remember.. I’m still your bos! Not Acha replacement..” katanya sambil tertawa.
“siap boss”kutatap kerlingan mata mbak kiko yang meninggalkan ruangan kerjaku, “ini harus saya tuntaskan” kepalan tanganku mengeras menghantam meja.
Dan… itulah titik balik hidupku. Tak ada lagi Ren yang hidup dalam cerahnya sinar mentari. Tertawa bersama cinta. Kini, yang tersisa hanyalah Ren, yang tersenyum dalam bara yang panas. Seorang journalist “demon’s winged angel”.
bersambung ke chapter 3 “Demon Journalist“