Rahasia Kota Emas (SH chapter 2)
Aku berdiri tegak diatas beranda menatap serpihan daun pohon depan rumah yang kami tanam 5 tahun yang lalu, sebagai tanda dimulainya kehidupan cintaku dengan Filias.
Angin berhembus sejuk. Pagi yang cerah. Kicau burung dan dinginnya udara pagi membelai sekujur tubuhku.
Seorang wanita datang sambil menggandeng dua orang bocah kecil menuju ke arahku. Dia adalah Filias, sang Nyonya Iolaus beserta si kembar Rasendra dan Rasendi.
Rasendra, seorang bocah laki-laki hiperaktif yang doyan semua kegiatan fisik. Dan Rasendi, seorang gadis cilik yang terlihat kalem dan sedikit centil. Keduanya adalah permata hatiku.
Satu tahun setelah aku membuka hatiku kepada Filias, aku lulus. Dan segera, kupinang Filias dengan sebuah resepsi sederhana yang hanya dihadiri kerabat dekat, rekan mahasiswa dan beberapa relasi kami. Tak lama setelah itu, Filias hamil dan melahirkan.
kebahagian mewarnai kehidupanku, kami punya segalanya. tapi ada sesuatu yang selalu mengganjal perasaanku, sebuah pertanyaan yang selalu menuntunku agar mencari jawabannya.
Ya, rahasia apa yang dibawa mati oleh kedua tua kami ? Mengapa mereka harus terbunuh ? Siapa yang bertanggungjawab ?
“apa yang kau risaukan suamiku Iolaus?”tanya fillias kepadaku.
“Hmmm..” sahutku sambil tersenyum. Tangan-tangan kecil si kembar berkelana di baju dan rambutku, mengajak bermain, minta perhatian. Aku tertawa kecil pada mereka “..tentang kakek-nenek mereka, sayang..” jawabku pada Filias.
“jangan berpikir jika mau meninggalkanku”dahi istriku mengkerut, ada rasa kekhawatiran yang besar di pikirannya.
Eleuh… woman’s feeling… keluhku dalam hati. Intuisi yang tajam.
“sudah saatnya pertanyaan itu harus menemukan jawabannya istriku”perlahan kurebahkan kepala Fillias ke bahuku.
“Dear….”, bisik Filias, “lupakan masa lalu itu.”
“Yeah,… don’t worry my love…”. Dan kukecup indah bibir manisnya, mengajaknya melupakan permasalahan ini.
*********************************.
Kantor Audit Keuangan, Bailey & Son, Senin, 09.00 AM.
Aku tengah merekap beberapa laporan audit keuangan dari sebuah BUMN terkenal dinegeri ini ketika Bos, Howard Grimm, masuk keruanganku. Nafasnya tersengal-sengal. Butir-butiran keringat terlihat bercucuran di wajah dan lehernya.
Bibirnya tersenyum lebar, seolah saat ini dia menjadi orang paling bahagia didunia. Ditangannya terlihat satu bundel dokumen yang telah terjilid rapi.
“Iolaus ! Good News ! Kita dapat order besar. Detailnya ada di dokumen ini. Tolong segera pelajari ya ! Kita meeting sore ini”
Belum sempat aku menjawab, Howard sudah menghilang dibalik pintu.
Perlahan, kubuka bundle dokumen yang diberikan oleh Howard tadi. Didalamnya terlihat selembar tiket, selembar cek, dokument keberangkatan, surat jalan dan beberapa dokumen pelengkap lainnya.
Kulihat tanggal yang tertera di tiket pesawat, “.. besok pagi ? Howard sudah gila kali ya ..?” gerutuku dalam hati.
“Dan ini.. tujuannya.. Madrid, Spanyol ?” gumanku sendiri.
Dengan gusar, kucoba membuka-buka dokument-dokumen lain lebih lanjut.
Hm, Aku harus mengaudit keuangan perusahaan yang bernama Pasquale Explorica yang berlokasi di Madrid, Spanyol. Order ini datang dari Pacific Indonesia, perusahaan yang baru membelinya. Mereka ingin kejelasan status keuangan.
Dalam tugas ini, aku akan dibantu oleh tim lokal setempat, Miss Angelica Terracciano dan tim. Aku harus segera berangkat besok. Dan ini, cek, harus segera kucairkan…
“Pasquale Explorica.. Pasquale Explorica.. dimana pernah kudengar nama itu akhir-akhir ini ya…?” pikirku sambil membuka internet. Mungkin ada informasi lain yang bisa kuperoleh …
Hasil pencarian di internet memberiku sebuah wacana baru. Pasquale Explorica, adalah sebuah perusahaan ekspedisi yang kini tengah disorot. Diduga mereka terlibat dalam sindikat perdagangan ilegal benda-benda bersejarah.
Pacific Indonesia, yang telah terlanjur membelinya, tak ingin tertimpa musibah lanjutan akibat penyelidikan interpol. Karena itulah mereka berencana melakukan audit keuangan secara besar-besaran terhadap perusahaan yang baru dibelinya itu.
“..Hmm… seperti itu ya…” Ujarku. Entah kenapa, aku merasakan adanya sebuah getaran. Sebuah kedekatan. Namun aku sendiri tak tahu, apa maknanya.
Kucoba menelusuri lebih lanjut. Beberapa tab browsing yang terbuka aku arahkan pada pencarian update terakhir pada jam ini dan hari ini.
Hingga akhirnya mataku terpikat pada sebuah judul tajuk di sebuah portal berita internasional. Sebuah berita hangat yang baru saja diupload. Melihat timestampnya, update berita itu belum lima berselang.
Judul itu : Pasquale Explorica, Pencurian Artefak Yonaguni Jima. “What ??” hatiku bergetar. Badanku menggigil. Sebuah kebetulan yang bukan kebetulan.
“Pihak yang berwenang tengah menyelidiki keterlibatan Pasquale Explorica (PE) atas rusaknya situs sejarah Yonaguni Jima. Pihak PE menolak klaim berita tersebut ..bla bla bla..” Aku meloncati bagian yang menurutku tak menarik.
Paragraf selanjutnya lebih menarik untuk kusimak, “Lebih jauh, Pihak berwenang menduga PE juga terlibat sebagai dalam rekayasa bencana di Yonaguni Jima yang menyebabkan hampir seluruh tim peneliti sejarah saat itu meninggal.”
Nafasku seolah terhenti.
Dunia terasa liquid. Dan aku, mulai tak mempercayai nalarku.
Sebuah memory duka terbuka kembali dalam ingatanku. Menoreh ingatan visual yang terekam dalam ingatan. Dan perlahan, mencabut seluruh isi rongga dada.
Perlahan, roll film itu seolah diputar ulang kembali. Yonaguni Jima, candi bawah laut, penyelaman, serbuan hiu mendadak, laut yang memerah, ombak yang tiba-tiba menggulung tinggi. Dan.. seorang gadis cilik yang menangis sebatangkara, Filias.
Oom Reno, datang menghampirinya. Memeluknya dan kemudian menghapus airmatanya.
Ibuku, yang saat itu baru saja ditinggal mati ayahku, menggandeng tanganku. Dan kami mendatangai Oom Reno dan Filias. Ya.. rasanya baru saja kemarin kejadian itu.
“Aku akan menjadi ayahmu, sekarang…” kata Oom Reno kepada Filias. Kuingat beliau mengucapkan itu sambil tersenyum. Beliau terlihat tegar, walau ku tahu, dalam hati Oom Reno juga menangis sedih. Tante Marianne, istri Oom Reno juga menjadi korban.
Dan akhirnya, Filias menjadi kakakku, saat Oom Reno meminang Ibuku, beberapa tahun kemudian. Filias yang saat itu sudah bisa melupakan traumanya, begitu gembira memperoleh seorang ibu dan daik baru sekaligus.
Namun begitu, lautan dan samudera bagi Filias, adalah sesuatu yang sangat enggan didekatinya. Dia lebih memilih berlibur ke pegunungan ketimbang ke melihat air biru.
Kami berempat hidup bahagia. Bersama kami menempati rumah mungil dipinggir kota. Hari demi hari diisi dengan banyak tawa dan bahagia.
Beberapa tahun kemudian ibu dan Oom Reno, bergabung dalam sebuah penelitian mengenai kota kuno yang hilang. Kamipun berangkat bersama. Sayangnya, itulah kebersamaan terakhir kami.
Sesuatu terjadi dan seorang agen berwenang menjemput kami ke rumah sakit. Dia hanya berkata, “sorry….”
Di rumah sakit, kami menemui ibu, disaat-saat terakhirnya. Beliau terlihat sangat kesakitan, namun berusaha keras tersenyum saat kami datang.
“Iolaus…kau datang nak ?…. Mohon maaf nak, sepertinya ibu tak bisa mendampingimu lagi…. Tolong jaga kakakmu baik-baik… Filias… jaga Iolaus ya..” Dan perlahan.. tangan Ibu mendingin. Sedingin AC rumah sakit itu.
Berikutnya yang ku ingat adalah Filias menangis sejadi-jadinya.. dan aku.. seolah rumput yang tercabut dari akarnya. Kemudian terbuang ke tepian jalan. Kami sebatangkara.
**********************************.
Rumah, malam hari, 08:00 PM.
Aku benar-benar tak ingin mengungkap fakta ini ke Filias. Kestabilan emosi dan feelingnya harus aku jaga. Ada dua buah hati kecil yang masih membutuhkannya. Dan aku, hanya ingin Filias tahu, aku berangkat untuk tugas bekerja. Tak lebih!
Kupandang kedua buah hatiku yang pulas terlelap dikamarnya. Begitu lucu dan bebas masalah. Papa sayang kalian, nak! Mohon maaf papa tidak bisa pamit pada kalian, besok pagi pesawat papa sudah terjadwal. Kukecup kening keduanya dengan sayang.
“I’m scared, honey..” tiba-tiba tubuhku sudah dipeluk dari belakang. Filias ! Dia begitu cantik malam ini. Wajahnya masih bersinar menawan, walau tak mampu menyembunyikan rasa khawatirnya.
“Kau tahu,… tak pernah kita berpisah sejauh dan selama ini. Kecuali besok….” katanya. “I don’t wanna be alone… my love…” bisiknya di kupingku.
“Yeah.. me too..” kataku sambil berbalik memeluknya. “… it’s hard to be separated from you….”
….
“… honey…”
..!!..
“..don’t… the child will see us ….” erang Filias.
“…. they’re slept… don’t worry…”
…a…!
“… iolaus…. … my love … take me…. to our room… please …my love….”
********************************.
Petit Palace Londres Hotel, Madrid, Espain, 16:00 PM.
Di Kamar hotelku. Aku dan partner setempat baru saja menyelesaikan pekerjaan hari itu.
Aku, Nona Angelica Terracciano, dan Roberto da Silva, mereka semua akuntan lokal yang bekerjasama dengan kantorku. Semuanya masih muda dan berusia sebaya denganku.
ku sibakkan tirai jendela.. ku pandangi Royal Palace, yang merupakan salah satu arsitektur istana terbaik di Eropa. sejenak mataku jauh memandang kekosongan.
Ibu, Oom Reno… rasanya aku kian dekat dengan kalian. Aku tersenyum syahdu. Akarku dan alasan hidupku.. semuanya kini seolah akan terjawab.
“tidak ada satupun hal didunia yang bisa disembunyikan”gumamku lirih sambil meminum Freshly squeezed orange juice yg dari tadi tak mau lepas dari tanganku.
“¡Perdóneme! señor Iolaus…” sapaan itu menarikku keluar dari lamunanku.
“Si falta Angelica…?” jawabku sambil tersenyum malu. Space out dalam sebuah meeting… wah… bisa kelihatan tidak profesional dalam bekerja.
“Sientete como en tu casa..” katanya sambil tertawa. “Santai saja, Spanish cukup menyenangkan…”
“Jangan terlalu bersedih karena pekerjaan. Bukankah sejauh ini lancar ?” sahut Roberto sambil tersenyum. “Lagipula Pacific Indonesia dan perusahaanmu adalah klient loyal kami… Tentu saja Senor akan kami bantu sepenuh hati kami, Hahaha..”
Roberto da Silva, seorang pria yang menyenangkan. Badannya besar laksana Hercules. Suka bercanda dan sepertinya ahli merayu. Sedangka Angelica Terracciano berpembawaan lebih santai dan easy going. Mereka sangat pro dalam bekerja.
kuhampiri meja tempat duduk mereka, sejenak kupandangi sebuah botol balvenie yang mengandung sherry minuman anggur Spanyol berwarna kuning kecoklatan bercampur madu.
“Senor Cantinflas, pimpinan PE disini akan mengadakan pesta nanti malam ? Bagaimana kalo kita datang ?” ajak Roberto da Silva.. “Si Senor Iolaus ? Vamos a celebrar !” Dia tersenyum lebar, sambil menunjukkan empat pucuk undangan.
“okey…tapi Roberto?”Iolaus setengah berbisik”target kita pasquela Explorica, kendalikan dirimu”
“Roberto ? Mengapa ada empat ? Kita hanya bertiga disini ?” tanya Angie, panggilan akrab Angelica. “Jangan-jangan kau ingin kencan dengan Senorita Isabelle ? Benar begitu, Roberto ?” Wajah Angie menyunggingkan senyum lebar.
“De nada!” jawab Roberto sambil tersipu malu. “Tapi tenang saja, aku tak akan mengacaukan pekerjaan kita. PE memang sedang diaudit. Dan saya cukup aware bahwa Senor Cantinflas, ingin men-servis kita, agar beroleh kemudahan.”
“okey semua…everybody Happy?”suara Anggie agak meninggi,” yukkk ..kita berangkat!”
“Hey… aku perlu mandi, ganti baju dan menjemput Senorita Isabelle” protes Roberto. “Senor Iolaus, tolong kau antar Angie ke apartemennya untuk berganti busana pesta.. Que Lio.. Kau tak pernah berubah Angie..”
“Hablando del rey de Roma,” cibir Angie sambil meledek Roberto. Sesaat kemudian dia melirikku, “Senor, mohon keramahan anda mengantarkan seorang lady….. Aku”, katanya sambil berlagak laksana bangsawan kerajaan Spanyol.
beberapa selang waktu kemudian.
Angie yang tadinya bookish dengan kacamatanya sudah menjadi senorita yang menawan. Wajahnya hispaniknya terlihat segar dengan gulungan rambung pirang keatas. Tubuhnya dibalut gaun pesta berwarna merah yang memperlihatkan keindahan leher dan pundaknya.
Dia memutar-mutar dirinya didepanku. Sambil tersenyum dia tertawa, seolah menantangku untuk pandai-pandai memujinya.
“Preciosa !” kataku sambil memujinya. Aku teringat hasutan Roberto sebelumnya, “Senor, jangan biarkan wanita mematut-matut diri di depan Senor tanpa Senor sempat memujinya. Itu tidak sopan..” katanya sambil tersenyum. Well, rasanya tak susah untukku.
“Muchas gracias”, jawab Angie sambil tertawa gembira. “Kita berangkat ?” tanyanya sambil menggandeng lenganku. Sementara tangan satunya lagi menghentikan taxi.
“Okay !” sahutku sambil mengikutinya.
Angie memerintahkan sopir taxi itu untuk membawanya ke Hacienda milik Senor Cantinflas, tempat dimana pesta itu digelar. Tak berapa lama, kita telah meluncur menyusuri jalanan Madrid yang tertata apik.
“Me has ayudado mucho, Senorita Angie”
“Muchas gracias”, jawab Angie. “Ada apa Senor ?”
“Ada satu yang menggangguku Angie.” aku menatap ekspresi wajah Angie, mencari tahu apakah dia juga memperoleh pemikiran yang sama.
“Apa yang Senor maksud, dari audit kita terakhir, yang mengacu pada Senor Cantinflas ?” tanya Angie.
“Ya! Mengapa Senor Cantinflas mengatasnamakan PE untuk pembelian sebuah perusahaan kecil di luar Spanyol, pasca diakuisisi oleh Pacific Indonesia ?” Rasanya Angie juga sepemikiran denganku.
“Kantor Pacific Indonesia yang kuhubungi mengkonfirmasi bahwasanya itu terjadi tanpa pembicaraan dengan mereka terlebih dahulu” lanjutku menambahkan.
“Kecuali…” kataku sambil melirik ekspresi Angie..
“Estas de broma!” pekik Angie terkejut. “Senor Cantinflas melakukan pembelian untuk kepentingan pribadi, atas nama Pacific Indonesia ..”
“Dugaanku..” sambungku, “..Senor Cantinflas melakukan manipulasi bisnis ilegal.. dengan PE dan Pacific Indonesia sebagai kedoknya..”
Kami terdiam sejenak. Kulihat, Angie sedikit terpukul dengan kenyataan itu.
“Senorita, semua ini akan sangat masuk akal. Terlebih lagi bila kita menyadari beberapa fakta. Yang pertama : saat ini interpol tengah mengamati gerak-gerik PE.”
“Kemudian fakta berikutnya : mengapa Pacific Indonesia rela bersusah payah mengeluarkan banyak uang untuk mengaudit PE ? Karena mereka tidak ingin bisnisnya terganggu karena skandal PE. Logikanya, skandal PE ini bukan skandal kelas teri.”
“Bisa jadi ini skandal besar. Entah dari skala putaran cashnya, efeknya, orang-orang yang terlibat atau tingkat kriminalnya.”
“El Diablo…” koemntar Angie sambil membuang mukanya keluar.
“Dan kau tahu, Senorita. Aku cek account perjalanan Senor Cantinflas dalam setahun terakhir. Dia banyak melakukan perjalanan ke Columbia.”
Angie menatapku dengan penasaran.
“PE sedang disorot dalam kasus Yonaguni Jima, artefak kuno. Dimana dalam kasus ini Senor Cantinflas jelas-jelas terlibat aktif. Logikanya, apa yang setara dengan Yonaguni Jima di Columbia ?” kubenahi sebentar dasiku.
“Hmm.. Columbia… Obat bius ?” tebak Angie.
Aku tersenyum, “Dibandingkan dengan ini, bisnis obat bius hanya akan terlihat senilai bisnis prostitusi murahan.” Kuhentikan kata-kataku sekadar untuk mengingat wajah kebingungan Angie.
“Date prisa!” katanya sambil tertawa. Rupanya dia sadar tengah kupermainkan rasa penasarannya. “Katakan, Senor Iolaus !”
“Legenda El-Dorado, The City Of Gold …” kataku dengan penekanan. “Dan kau tahu Angie, dengan banyaknya nominal yang masuk ke dalam rekening PE melalui sumber-sumber yang tidak bisa kita konfirmasi, kurasa …”
“..Senor Cantinflas sudah menemukan sebagian kecil dari reruntuhan kota Emas El-Dorado !” potong Angie. Tangannya mengepal gemas. “Un conazo” makinya kasar.
“Aku yakin, tak sedikit orang-orang PE yang disingkirkan oleh Senor Cantinflas agar dia bisa leluasa bergerak.” Kubenahi Tuxedoku. “Aku berani bertaruh bahwa dipesta nanti kita akan banyak menemui orang-orang asing dari Columbia dan Inggris.
“Mengapa anda menduga disana ada orang Inggris juga, Senor ?”
“Sekadar intuisi saja, nanti akan kukatakan setibanya disana.” jawabku, mencoba memancing penasaran Angie kembali.
“Cruzando los dedos.” kata Angie sambil tertawa. Dicubitnya pinggangku hingga aku melintir. “Kau suka memancingku penasaran, Senor ? Rasakan ini..”
“Ouch, herir senorita..” jeritku kesakitan.
mobil yang membawa kami meluncur dengan cepat diikuti gelak tawa.
“Si Senor, akan kulaporkan semuanya ke Pacific Indonesia” tukas Angie disela-sela tawanya. “Aku rasa mereka harus segera kirim orang ke Columbia untuk lebih jelasnya..”
“orang yang dikirim itu adalah Iolaus”aku tersenyum tak menghiraukan mata angie yang terus melotot berharap aku menatapnya.
Tak terasa, taxi telah sampai di tujuan.
Hacienda milik Senor Cantinflas adalah sebuah rumah bergaya spanyol yang luas, bagus dan indah. Di tengah-tengah bangunan dibangun sebuah kolam renang dewasa yang luar biasa bagusnya. Memiliki fasilitas wave generator, air panas, spa dan bar kecil.
Angie bersiul kagum. “Si, Senor Cantinflas benar-benar telah menemukan kepingan El-dorado..” Kemudian lengannya menggaet lenganku. “Di Spanyol, siapapun wanita yang Senor ajak kepesta, Senor harus menggandengnya seperti ini.” katanya sambil tertawa.
Aku tersenyum melihat sikap dan keramahan. Apakah semua senorita di spanyol seramah dia ini ? Ataukah aku yang spesial ? Dalam hati aku tertawa sendiri.
Dengan menggandeng Angie, kami memasuki Hacienda tersebut.
“darse cuenta de algo…. Si Senor Iolaus, benar dugaan senor disini banyak wajah-wajah orang Columbia dan… tampang-tampang aristokrat Inggris..” tukas Angie.
Aku tertawa kecil padanya.
“Senorita Angie, sepertinya kita perlu berangkat ke Columbia. Ada audit dan sedikit penyelidikan yang harus diselesaikan disana. Kau bersedia ?”
“…dar saltos de alegria… Senor Iolaus. Kenapa tidak ? Lagipula ini kesempatanku melihat Columbia… atas biaya dinas…” katanya sambil tertawa. “Kapan Senor akan berangkat ?”
Ramainya suasana pesta membuat ku tak bisa mendengar jelas ucapan Angie. Kuminta dia mengulanginya lagi. Beberapa kali.
“Minggu depan, Senorita Angie. Mohon dibantu perlengkapan kita. Aku akan mengurus laporan dan ijin-ijin internal dengan kantor-kantor kita..” jawabku.
“Si Senor. Saya ikut. Roberto ?”
“Menurutmu bagaimana ?”
“…Roberto harus tetap di Madrid. Agar orang-orang PE tidak curiga. Sekaligus juga sebagai penghubung kita…”
“Brilliante !” pujiku.
“De nada..” sahutnya sambil tersipu. “..Vamos a celebrar ! Mari kita nikmati pesta ini, Senor…”
Dan kami pun membaur dengan para tamu lainnya.
Larut dalam meriahnya pesta.
Di pojok tertutup, kulihat Roberto sedang asyik bersama seorang wanita. Kurasa itu Senorita Isabelle. Kulambaikan tangan saja, menyapanya dari jauh.
Sementara diatas sana, Senor Cantinflas tersenyum puas melihat kedatangan kami berempat.
El-Dorado, betapa enaknya, ketika kepentingan pribadi bisa seiring dengan pekerjaan. Disana mungkin akan kutemukan jejak leluhur dan juga jejak kecurangan PE dan Senor Cantinflas.
Malam semakin larut. Dan pesta semakin meriah. Sangat meriah.
Sementara aku, semakin hanyut dalam pikiranku tentang El-Dorado.
***
Seminggu kemudian …
Barajas, Madrid Airport, dua belas kilometer dari pusat kota Madrid. Di sebuah ruang boarding.
Aku dan Angie tengah bersiap berangkat menuju Columbia. Kantor hanya memberi ijin tugas kepada kami berdua. Kuingat, semalam sebelumnya Roberto meraung-raung minta diijinkan ikut.
“Apa yang kita tuju di Columbia, Senor ?” tanya Angie kepadaku. Di mengenakan jeans ketat dan kaus casual. Kacatama fashionnya mengingatkanku pada salah seorang model dari Spanyol. Entah, aku lupa namanya.
“PE cabang Columbia, tentunya, Senorita..” sahutku setengah cuek.
Tanpa ampun, tangan galak Angie telah bersarang dia pinggangku. “Cruzando los dedos.” guraunya “terlalu kau, Senor..”
“..herir senorita..” jeritku kesakitan.
“Ampun senorita Angie…” kuatur posisi dudukku. Kali ini wajahku menatap wajahnya dalam jarak yang sangat dekat, “El-Dorado kota emas…dan La-Guatavita.”
“La-Guatavita ?” tanya Angie bingung. Kurasakan nafas hangatnya berhembus menerjang wajahku.
“Ya… orang-orang sering mengenalnya sebagai… danau emas…” tukasnya dengan intonasi teror nan horor.
“Si. Senor.. anda lucu sekali” respon Angie sambil tertawa. “Tak kusangka orang jauh dari negeri Indonesia bisa begitu seru dan menyenangkan seperti..” godanya sambil tertawa.
“Hablando del rey de Roma, Senorita. Ada kemungkinan disana kita akan bertemu orang jahat. Kau tak takut ?” tantangku.
“Tidak, Senor. Hidup hanya sekali. Mengapa tidak sekalian saja di buat se-seru mungkin?” sahutnya. Disaat itu kulihat karakter bebas mandiri seorang Angie terasa begitu hidup.
“Lagipula kau pasti akan melindungiku disana. Bukan begitu, Senor Iolaus ?” godanya lagi.
“Si, Senorita. Itu pasti..” jawabku sambil menirukan lagak seorang ksatria pada sang putri.
Dan kamipun tertawa bersama.
bersambung ke chapter 3 “Ancient City Of Gold”