Serpihan Hati (Chapter 1)
“gedubraaaaakk”sebuah lemparan buku mengenai pundakku, sosok wanita bengis menghampiriku yang dari tadi sibuk merapikan buku diatas meja makanku.
Aku melirik ke arah sumber bencana.
Tinggi kurus, berkacamata dengan poni tail yang terasa jadul banget. “Apa maumu, cewek liar ???” semprotku dengan semangat empat lima.
“Jatah burgerku kau makan lagi ya ?” katanya sambil mencengkeram kerahku. Dia Filias, anak angkat dari almarhum ayah tiriku. Kedua orang tua kami telah tiada. Dan tinggal kami berdua yang ada. Singkatnya, kami bukanlah saudara kandung sedarah.
“kalo iya,emang kenapa?”kucoba melepaskan cengkeraman fillias.
Fillias sedikit tercekat melihat aku yang berani melawan, biasanya aku lebih memilih diam dan menyingkir.
Filias tersenyum pias. Firasatku gak enak. Aku mencoba mundur, namun kelebat tubuh Filias lebih cepat dari kakiku. Dan “… celaka.. “, dunia seperti terbalik, “.. seoi nage.. bantingan terbalik”. Pasrah!
“Adu..adu..aduh…” keluhku sakit. Tangan dan kakiku kini berada dalam kekuasaan Filias. Ya, ini bukan pertamakalinya. Sejak kecil seperti inilah pola hubungan adik-kakak kami.
Wajah Filias begitu dengan dengan wajahku kini. Aku bisa merasakan harum nafasnya. Oranglain mungkin akan berpikir lain tentang posisi kami saat ini.
“Tak heran SMA mu berlalu tanpa kenangan tentang seorang pacar pun.” ungkapku dengan cemberut. “Si Ruben, senior yang paling bongsor di angkatanmu aja tiga bulan dirumah sakit setelah kau banting. Tak heran semua pria kabur..”
“Simple kan ? Berarti mereka tak cukup layak bersanding dengan ku ..” katanya sambil tersenyum. Tangan dan kaki sudah tak dikuncinya lagi. Namun tubuhnya masih menindihku.
Aku mendorongnya ke samping, dan bangkit. “Sebaiknya segera kau cari pacar. Terakhir kau kacaukan acaraku bersama Nabila. Tiba-tiba menggandengku dan mengaku pacar. Huh ..”
Filias duduk dan mengambil posisi seiza (sila). Dengan bercanda dia memberikan hormat ritsurei kepadaku sambil tertawa ramai. Kacamata dan model rambut poni jadulnya kini dia lepas. Wajah manis cantik Filias yang tadi tersembunyi kini terlihat jelas.
“Nabila ? cewek itu terlalu pendiam dan introvert untukmu. ” sahutnya ceria. “Dia terlihat mudah mendominasi cowok. Cari lagi yang lebih muda dan seksi.” tukasnya. “By the way, kenapa kamu gak ikutan judo bareng aku aja ?”
“Yang pertama, bukan urusanmu aku nge-date dengan siapa. Yang kedua, aku cinta damai dan anti kekerasan” tukasku sambil ngeloyor pergi.
Sesaat aku melihat seringai iblis Filias.
“Aku berangkat dulu. Ada kuliah pagi ini. Wassalam” pamitku sambil mencongklang Vespa tua warisan almarhum ayah tiriku.
Kampus, pukul 12:00. Di kantin Fakultas Ekonomi. Aku duduk sambil menikmati Es kopyor dan sate kambing. Didepanku, Nabila duduk sambil merenggut masam. Dia masih merasa terganggu dengan kejadian kemarin, kencan yang berantakan oleh Filias.
“Kamu pasti bohong lagi Iolaus ! Bagaimana mungkin cewek itu kamu aku sebagai kakak, terus nggandeng kamu mesra kayak gitu ???” wajah Nabila merah padam karena emosi. Beberapa cewek jahil penggosip tampak mencari posisi terbaik untuk nguping.
Ini bukan pertamakalinya aku berada diposisi seperti ini. Semua gara-gara Filias. Cewek liar itu,… batinku mengomel. Nabila bukan yang pertama, sebelumnya ada Vadya, Tiara, Ina dan …
“Iolaus !! Denger gak sih aku ngomong ???” sentak Nabila.
Bentakan ini juga bukan pertamakali aku alami. Batinku mengomel kembali. Sebelumnya Nadya, Kadek, Jeanny dan Marina juga memperlakukanku seperti ini. Biasanya yang mereka lakukan habis ini adalah menyiramku dengan air di gelasnya.
“Aku nggak tahan Iolaus !! Tiap kita jalan bareng keluar, selalu saja ada kejadian seperti ini…” Nabila mulai terisak.
Duh..waduh.. airmata cewek ? Aku nggak siap dengan ini. Baru kali ini ada yang sampai menangis seperti ini … Aku celingukan bingung. Tak tahu harus apa. Orang-orang disekitarku mulai melirik dengan pandangan aneh padaku. Pasti mikir yg aneh2 juga.
“Nabila… itu bener koq. Yang kemarin itu Filias, kakakku.” Tuturku lembut sambil mencoba menenangkan Nabila. Kucoba bangkit dan menggamit pundaknya. Dan ..
Plaaaak !!! “Kita putus Iolaus !” Nabila bangkit berdiri, kemudian berlari sambil mengusap air matanya. Tanpa pernah menoleh kebelakang lagi.
Aku terpaku bercampur panas pipi, kejar ? minta maaf ? atau seperti yang sudah - sudah .. antiklimaks ?
Pipiku terasa panas. Tamparan dan diputus didepan publik seperti ini. Ugh,. sebelumnya Dewik, Monique, Kirana dan Gwen juga pernah memperlakukanku seperti ini. Argh…. kataku sambil menghela nafas berat.
Nabila berlari masuk ke Jazz biru telur asinnya, mesin menggeram , decitan ban menghitam diaspal … dengan enggan aku kembali ke Kopyor dan sate kambingku … “You really know how to ruin my appetite girls ..”‘ gumamku resah …
Beberapa cewek jahil penggosip yang tadi bersembunyi nampak melewatiku. Beberapa dari mereka melihatku dengan pandangan memvonis. Seseorang diantaranya malah menjulurkan jari tengahnya padaku.
Dojo Kampus, pukul 16:30. Aku datang atas permintaan (perintah) Filias.
Cewek liar, idot yang ceroboh. Makiku dalam hati. “Bisa-bisanya dia menghilangkan kunci rumah”. Kumasuki dojo kampus yang berbentuk teater tersebut. Dibawah sana kulihat Filias, monster cewek itu tengah berlatih.
Duduk pasrah selonjor disamping pintu masuk kuperhatikan dia berkeringat, bersemangat.
Dari Jigo Tai, posisi bertahan, kaki dibuka lebih lebar, lutut ditekuk agar pusat gravitasi tubuh lebih turun, Sparing partner Filias tiba-tiba melakukan mae ukemi dan menyerang. Filias menyambutnya teknik yang diakhiri dengan seoi nage.
Bum ! sang partner sukses mencium bumi.
Aku tertawa kecut. Tak heran Filias begitu ahli, la wong korban latihannya adalah aku. Tak terhitung, berapa puluh kali dia melakukan itu padaku.
Iseng kuperhatikan sparing partner Filias. Rambut hitam, potong pendek, tinggi kira-kira sama dengan Filias. Hmm ..
Selama ini aku selalu berkencan dengan gadis-gadis yang lebih muda dari Filias. Tak pernah sekalipun jalan bareng temannya Filias. Gimana kalo ada yang cocok dan bisa diajak jalan bareng ya ?
Kotak rokokku tak jadi kukeluarkan, di gym seperti ini pastilah dilarang .. Kupandangi layar HP, tak ada tanda-tanda Nabila disana .. the worst part of being alone is a phonebook full of numbers with no one to call.
Aku melambai ke arah Filias, memberi isyarat kalo akan menunggu nya diluar. Dan Filias…. membalas isyaratku dengan acungan tinju kirinya. Seolah mengatakan “Awas kalo berani kabur ! Tunggu aku.”
Ah, udara luar dojo. Aku bisa merokok disini. Dan ritual itupun dapat dengan tenang kulakukan.
Aku masih terbayang-bayang moment terakhir tadi siang Di Kantin. Ah,.. setelah Vadya, Tiara, Ina, Dewik, Monique, Kirana, Gwen dan kini Nabila. Pake di tampar lagi… Semua gara-gara Filias. Tapi,.. dia satu-satunya ‘keluarga’ bagiku.
Ayah memberi cukup untuk kami, materi.. Ya, tapi keluarga hanya oma di bandunglah yang ada.. Ayah adalah anak tunggal..
Dan sepeninggal almarhum Ayah, Ibuku menikah lagi dengan Oom Reno, sesama arkeolog. Bersama, mereka bergabung dalam sebuah penelitian yang disponsori oleh University of Ioannina. Oom Reno saat itu telah mengangkat seorang putri, Filias Rasendriya.
Dulu, semasa muda Oom Reno pernah ikut serta dalam penelitian Yonaguni Jima, reruntuhan kuno candi bawah laut, di lepas pantai Jepang. Namun siapa menduga, sebuah peristiwa tragis menewaskan seluruh anggota tim penyelidik. Termasuk orangtua Filias.
Arkeologi memang bukan bidang yang selalu aman untuk ditekuni. Tragedi Yonaguni Jima juga ikut merenggut cinta sejati Oom Reno, Marianne, yang baru saja sebulan dinikahinya. Marianne adalah seorang mahasiswi arkeologi lulusan Sorbonne.
Musuh utama para arkeolog adalah para pencuri artifak kuno. Mirip teroris bayaran, mereka tak segan membunuh. Ya, sedihnya, dedikasi Oom Reno dan Ibuku harus diakhiri oleh kekejaman mereka.
Semua hiruk pikuk tragedi itu menyisakan kami berdua sebatang kara. Filias, adalah cinta yang diwariskan oleh Oom Reno sebagai ayah tiriku. Ibuku pun tak kurang cintanya pada Filias. Aku berjanji untuk menjaga dia sekuatku, sesuai pesan mereka.
Hanya satu wasiat mereka yang kuabaikan. Untuk melanjutkan perjuangan mereka, mengabdi di bidang sejarah dan arkeologi. aku memilih untuk menjauhi semua yang berbau arkeologi. Akuntasi, di Fakultas Ekonomi adalah pilihan studiku kali ini.
Begitupula Filias, aku memaksanya untuk menjauhi semua hal berbau arkeologi sejarah. Nasib buruk keluargaku rasanya akan terus menghantui, selama keturunannya masih mengambil sejarah sebagai pengabdian hidupnya.
Dan sikap kerasku berhasil memaksanya mengambil studi di luar arkeologi sejarah, jurusan teknik elektro.
Kuhembuskan asap rokokku perlahan. Huh, betapa mellow nya diriku sore ini.
“Halo… ini bener mas Iolaus ?” sebuah suara merdu menyapaku dari belakang.
Dengan malas, aku menoleh. Sesosok gadis mungil berseragam cheerleader terlihat berdiri dibelakangku dengan antusias. Rambutnya dikepang dua. Dan keduabelah tangannya memegang pom-pom. Sepertinya dia baru saja selesai berlatih.
“Ini mas Iolaus kan ? Yang alumni SMU Nusantara dari kelas Internasional ? kan, kan, kan ?” berondong gadis itu dengan cerewetnya.
“Gadis ini…… cerewet, berisik dan ribut sekali,” omel batinku dalam hati. Namun sebuah senyum manis akhirnya muncul juga. Buah dari sekian puluh pengalaman kencan. “Haha.. iya. Kamu siapa ya ?”
“Huaaaaaaaa !!! Benerin nih kak Iolaus !!!” sorak ramai gadis itu.
Aku yakin, alisku berkerut.
Sejenak gadis itu menyadari kelakuan childishnya. “Aw! Sorry, kenalin, aku Rossa. Fate Testarossa”, katanya sambil mengajak bersalaman. “Dulu aku juga di sekolah disana. Waktu Mas kelas tiga, aku baru masuk kelas satu. Hehehe..”
Aha, junior. Pasti Maba. Batinku berkata.
“Mas ngambil jurusan apa sekarang ? Aku lagi FKH lo.. Bagi nomer telponnya donk ? Ikut UKM ya sore-sore gini disini?” berondongnya mirip gempuran AK-47.
Bawel kayak bebek! Aku nyengir lebar. Kusebutkan nomor ponselku.
“Iolaus ! Kusuruh menunggu malah asyik kencan dengan lolicon !” tegur seseorang dari belakangku. Itu suara Filias. Sial !
“Hey! Kamu siapa ? Aku udah mahasiswa tahu ! bla.. bla.. bla… dst.. dst..” bebek bawel itu protes berat.
“Who cares ?” jawab Filias sambil tersenyum menggoda.
Dalam kondisi seperti ini, biasanya Filias akan bertingkah seperti yang sudah-sudah. Sikap yang membuat Nabila bete setengah mati.
Dan bener saja. Lengan Filias mulai bergayut di bahuku. Perlahan dia menarikku menuju tempat parkiran. “Kita pulang, Iolaus..” katanya dengan suara dibuat se-sexy mungkin.
Ya, ampun. Kelakuan, batinku mengeluh.
Rossa memandang sosok kami berdua dengan muka merah padam. Aku yakin, dia akan memperoleh kesan yang sama, seperti yang dialami Nabila, Dewik, Monique, Kirana, Nadya, Kadek, Jeanny, Marina ..
Tak lama, berdua sudah berada diatas Vespa. Berkendara pulang menuju rumah. Dikejauhan, adzan magrib mulai berkumandang. Senja sore menutup kisah kami hari itu.
Filias memelukku dengan erat dibelakang. “Iolaus, tahukan kau kalau kesepian itu menakutkan ? Tak ada seorangpun yang mampu bertahan dalam kesepian.”
Kurasa, saat ini Filias tengah menempelkan wajahnya di punggungku.
“Aku hanya sebatangkara di dunia ini, Iolaus. Hanya kaulah satu-satunya yang kumiliki.” Filias mulai terisak. “Karena itu, mohon, tetaplah bersamaku. ‘Till the very end..” Ia terisak lagi, “Mohon, maklum ketakutan dan sikapku yang merepotkan mu..”
Aku tersenyum haru.
“Yeah, aku tahu itu. Sejak kematian ibuku dan Oom Reno.. I swear to protect you till the very end. Sama sepertimu, aku juga tak akan kuat dalam kesendirian.”
Filias membenamkan wajahnya di punggungku. Vespa kami mulai memasuki pekarang rumah.
“Makasih, Iolaus…” isak Filias lirih.
Dan ditutuplah tirai panggung cerita hari itu.
Rumah, pagi hari pukul 07.00. Keesokan harinya.
“Gedubraaaaakk” sebuah lemparan buku mengenai jidatku. Sosok monster cewek yang biasa gaduh dipagi hari telah memulai rutinitas ritual paginya.
“Iolaus !!! Jangan alesan kuliah pagi ya ?? Waktumu membersihkan kamar mandi…..” omel Filias.
Sial…. gerutuku dalam hati.
Pagi ini matahari menyemburat di meja makan, partikel - partikel debu mengambang tak peduli .. ada rasa enggan untuk memulai hari ini, adakah Filias merasa, semakin Ia menjauhkan aku dengan wanita2ku ada sesuatu yang aku sendiri bingung mengungkapnya.
Enigmatis, seperti itulah. Aku tak tahu.
HP dikamarku menjerit nyaring , Kuraih , Nomor yang tampil tidak ada di phonebook , “Halo ..”, sapaku standar ” Halo juga , ni Rosa mas , inget gak?” sahut suara ceria diujung sana.
Woaa !!! Sorak ku gembira campur panik. Segera ku lari keluar rumah untuk menjawab teleponnya dengan tenang.
Setengah celingukan demi menghindari Filias aku berkata “Ros, hai .. pagi pagi nelpon , ada apaan nih .. eh ntar latihan cheers lagi gak?”
“Ketemuan yuk mas ? Gimana kalo ntar siang abis kuliah jam 11 ?”
Kampusku berbeda dengan kampus Filias serta Rosa. Jaraknya hampir melewati separuh kota. Untungnya pagi ini aku hanya ada kuliah 3 SKS saja. Dan kunci rumah hilang sepasang, Filias kemungkinan minta di jemput sekitar pukul 16. Artinya.. “Okay Ros!!”
Rosa tersenyum sambil membereskan bukunya. “Kemana buku diaryku ya? Rasanya kutaruh di atas meja lho. Jangan2 diambil sama Filias. Dia kan tukang pingin tau aja urusan orang” Rosa mencari2 di seluruh ruangan. Tapi buku diarynya tidak ketemu. Wah…..
Usai mandi dan ritual yang orang lain tak perlu tahu, bersiul aku sambil menebarkan aroma Calvin Klein isi ulang yang baru kudapat minggu kemarin kala berkunjung kerumah Oma di Bandung.
Kucheck jadwal hari ini yang telah ku planning sebelum “..jam 7-11 kuliah, 11-13 date dengan Rosa, 13-16 kumpul di UKM Sinematografi, 16-18 Babysitting Filias, 18-22 Partimer Job, 22-24 Bikin Pe-eR.. Fiuh.. pada juga..” ujarku takjub.
Yah, partimer job adalah wajib bagiku. Kemandirian finansial diusia segini, rasanya mau tidak mau harus sudah dirintis. Malu donk, kalo masih tengadah. Lagian aku juga udah terbiasa sejak kecil.
Mulai dari loper koran dan majalah, bantu-bantu Koh Acong nganterin LPG dan Aqua Galon, dan sekarang .. jadi mentor les di sebuah kursusan. Lagian, aku juga punya tanggungjawab lain selain menopang hidupku. Ya, Filias.
“Entah bagaimana, tiba-tiba dia sudah take care semua urusan dalem rumah…. termasuk menegurku kalo mulai slack off … hehehe” tak sadar, aku tersenyum-senyum sendiri.
Waktu berlalu dengan cepat.
Kuliah berakhir dua puluh menit dari jadwal. Rupanya Pak Dosen lagi ada kerjaan lain di luar kampus. Sambil bersiul-siul, ku arahkan Vespaku menuju Citywalk Corner, tempat dimana Rossa janji ketemuan. Aruma Calvin Klein isi ulang begitu semerbak.
“Haaai… Iolauuus… disini” seseorang berteriak memanggilku dengan centilnya.
Oh ya, itu Rosa. Kuhampiri dirinya yang tengah berdiri di tepian side road.
Rosa mengenakan jeans ketat 3/4. Rambutnya panjangnya tak lagi dikepang dua. Namun diikat dan disembunyikan dibalik topi baseballnya. Penampilannya terlihat sporty banget. Jauh berbeda dengan Nabila yang feminim. Mirip banget dengan Filias…
Ah Filias lagi Filias lagi.. kenapa disaat kencan seperti ini masih teringat Filias. “Hmm… Apakah arti Filias bagiku ? Sekadar big sister ?” sekilas berkelebat pemikiran itu dibenakku.
Hanya sekilas saja. Karena detiknya berikutnya pikiranku sudah tersebut dengan seluruh penampilan sporty Rosa. Sporty tapi feminim.
Dan aku,.. larut dalam pesona Rosa.
Dibalik pilar , Filias memperhatikan langkah demi langkah Iolaus menghampiri Rosa … Ada semburat tak terbaca di riak wajah Filias …
Dan aku … sama sekali tak tahu.
Rumah, Sore hari pukul 16.00.
Filias terbaring di kamarnya. Suhu tubuhnya tinggi sekali. Rupanya dia demam. Hidungnya sempat mengeluarkan darah mimisan. Dia begitu lemah tak berdaya.
Aku panik. Dikamarnya ku kompress keningnya dengan penuh kekhawatiran.
Dia satu-satunya amanah kedua orangtuaku yang masih bisa kujaga. Dia juga satu-satunya yang membuat tetap tidak menyandang status sebatangkara. Dia satu-satunya bagiku..
“Iolaus…. aku tak ingin sebatangkara…” Filias mengigau dalam tidurnya.
Mataku berkaca-kaca. Ya, Filias… sahutku lemah. Ada rasa bersalah yang mulai menyelip di kisi-kisi hatiku.
Aku terpaku dalam dudukku disamping ranjangnya. Kubasuh kembali keringat yang mulai membanjir di wajah dan lehernya. Dan kuganti handuk kompress di dahinya. Aku benar-benar sedih. Sangat terasa kini, betapa berartinya Filias untukku.
Sesekali, Filias terdengar mengigau. Semuanya menyebut namaku.
Rasanya hati dan jiwa ini seperti dicabik-cabik tak tersisa.
Kuangkat telepon untuk mengabari UKM di kampus Filias, bila dia berhalangan hadir. Sekalian juga dokter, yang kuminta datang. Pikirku, biaya bukan masalah.
Diagnosa dokter yang datang menjelang pukul 18.00 cukup melegakan hati. Rupanya Filias hanya kelelahan. Namun tak hanya itu, sepertinya ada sesuatu yang membuat pikirannya begitu resah. Dokter memintanya untuk lebih rileks dalam menjalani hidup.
Aku semakin merasa bersalah.
Sepertinya, aku tak memiliki semangan untuk bekerja malam ini. Kutelepon lembaga les tempatku bekerja part time, mohon ijin untuk tidak masuk. Dan aku cukup beruntung, mereka mau mengerti.
Kuperbaiki posisi selimut Filias … lelap nampak ia sekarang, berjingkat aku hendak keluar kamar … Saat itulah sudut mataku melihat diary Filias terbuka diatas meja.
Aku menggeleng perlahan… Tidak ! Melihat rahasia hati seseorang adalah suatu kesalahan yang besar. Tapi ..
Kuacuhkan suara-suara dalam benakku. Air untuk mengkompress Filias sudah harus kuganti. Kulangkahkan kaki ku keluar kamar. Sejenak, kulirik daftar misscall yang terpampang dilayar Filias. Semuanya tak kukenal.
Tiba-tiba… blab ! Lampu mati. “Sh**t !! ada-ada aja… gerutuku..”
Aah.. kenapa temper ku mudah sekali naik. Keluhku. Sepertinya aku terlalu khawatir tentang..
Bruk..!! Dari arah kamar Filias.
Aku tercekat. Sebagian dari diriku meradang. Dengan sepenuh emosi, kuberlari kekamar Filias.
Brak, kubuka pintu kamar Filias dengan kasar. Kecemasanku memuncak.
Lampu Senter kuarahkan kedalam. Kulihat Filias tergeletak dilantai. “Antar aku kebelakang … Iolaus..” pinta Filias dengan memelas. Tubuhnya begitu lemah. Kurasakan sekujur tubuhnya demam panas kembali. Piyama yang dikenakannya telah banjir keringat.
Hatiku rasanya seperti disayat sembilu. “Ya…” jawabku kering. Kurengkuh tangannya untuk membopongnya ke kamar kecil. “Tunggulah didalam, akan kuambilkan arah panas untuk menyeka badanmu. Dan juga piyama kering..” jawabku serak.
Tubuh Filias terasa begitu ringan. “Sorry telah membuatmu khawatir ….”, ujarku pelan.
Filias menatapku sambil tersenyum. “Tidak, harusnya aku yang minta maaf. Telah merepotkanmu sedemikian jauh..”
Aku tersenyum dengan perasaan cemas yang masih bercokol. “It’s okay. ….Bukankan kita keluarga, Filias ?”
“Yah… thx Iolaus… thx sudah menjagaku dari kesebatangkaraan..” sahut Filias lemah.
Aku cuman mengangguk lemah.
Kuserahkan piyama hangat, handuk dan air panas untuknya. Tak lupa lilin yang sudah kunyalakan. Berdua, prihatin seperti ini, rasanya aku seperti terlempar kemasa lalu. Masa-masa setelah kematian kedua orangtua kami.
Seperempat jam kemudian aku telah kembali menemani Filias.
Dia telah pulas tertidur. Sembari ku kompress demamnya. Tak sadar mataku kembali menabrak diarynya yang terhampar.
Sungguh aku tak sengaja membacanya. Dan berhenti membacanya. Namun, tak sanggup kuhentikan diriku untuk membaca. Walaupun secara melompat-lompat.
Tak kupercaya, hampir disetiap halaman tertulis namaku !
Dibagian awal penuh dengan curhatnya tentang keluarga. Kerinduannya pada orang tua kandungnya, Oom dan Tante Rasendriya. Kesedihannya akan kematian mereka, nestapa saat kematian ayah angkatnya sekaligus ayah tiriku : Oom Reno.
Duka saat kehilangan ibuku sekaligus ibu angkatnya, Amelia. Dan.. kebahagiaan saat menyadari bahwa satu-satunya lingkaran keluarga yang tersisa baginya : seorang adik lelaki bernama Iolaus !
Aku tersenyum sedih sekaligus gembira. Dibalik penampilan kesehariannya yang galak, ternyata Filias adalah seorang gadis lembut yang penyayang pada keluarga.
Lembaran tulisan terakhir pada diary Filias : …
“I know that I don’t have blood relationship with Iolaus.. And we both know that we grown up together like big sister and little brother. Now, he has grown up, being an wise man. It amaze me.. so much.. as a woman.
I dont know whats wrong with my self. I couldnt be able to see him as a little brother again.
Since, he is dating so many girl so frequently…. Sometimes I felt so lost. I’m scared.. I’m afraid… of losing him.
Someday, another match type girl will meet him. And… He will fly so far away… far away that I couldn’t be able to meet him anymore.
Hell of solitude, that I don’t want to endure again….
I dont know when, how and why, I’m starting realize. Iolaus to me … it’s different. I just can tell that… I see him as a man, from an eyes of …. maiden in love…”
Kututup diary itu seketika. Dan kuselipkan dibalik bantalnya. Love ? Filias ? Otak dan hatiku sama sekali tak mampu kusinkron-kan. Ada kesejukan yang mengalir kepenjuru jiwaku. Sembari juga, kebingungan yang merajam logikaku….
Jiwaku terasa nyaman. Sementara tubuh dan ragaku terasa lelah dan capai. Otakku telah memerintahkanku untuk istirahat.. “It’s okay. You may rest right now..” kataku pada diri sendiri. Perlahan mataku tertutup, dan aku mulai tertidur…
dalam damai….
Pagi yang cerah. Mentari bersinar lembut. Hawa pagi yang sejuk memasuki kamar Filias lewat jendela yang kubuka lebar. Ini pagi ketiga yang datang, setelah Filias jauh sakit.
Filias duduk di pinggiran ranjang. Wajahnya berseri.
Aku masuk, dan memandangnya dengan penuh perasaan.
Mata bening nan bulat Filias memandangku teduh. Seolah menembus hingga kalbuku. “Kau tahu Iolaus, tak banyak sibling yang seberuntung diriku… Punya saudara yang seperhatian dirimu…”
“Tidak….” sahutku tak berani menatap wajahnya. Kakiku gemetar.
Mata bulat Filias terbelalak. Mungkin dia sedikit terkejut.
“… aku tak sanggup menghadapi kecemasan seperti saat kemarin lagi…” kataku gemetar ..
“..dan aku tak sanggup memandangmu sebagai sibling lagi….” kata-kataku melemah….
“..Filias.. a…aku… Iolaus yang kau lihat ini… I am in love with you… “
Lututku serasa lemas. Aku terjatuh. Ungkapan yang akhirnya terluncur juga dari bibirku.
Filias terpekik kecil. Kedua belah tangannya menutup sepasang bibir mungilnya.
Wajahnya merona merah. Dimataku, dia begitu indah. Dan semakin indah.
Tak sadar, kedua telapak mungil Filias telah menggenggam kedua tanganku. Perlahan diraihnya kepalaku, dan dipeluknya dengan lembut.
Filias terisak perlahan. “I do,… Iolaus…” katanya lembut. Dan kudengar detak jantung Filias yang begitu hangat. Detak jantung yang begitu damai. Detak jantung yang telah menemukan …
..serpihan hati, yang dulu tak terungkap.
“I am maiden in love with you, Iolaus…”
*****
bersambung ke chapter 2 “Rahasia Kota Emas“