The Dance of Fire (PoH chapter 6)
Pagi yang Indah.. vespaku melaju tak terarah karena gelak tawa Lin Hua yang duduk dibelakangku. kilatan sinar mentari memantul indah bak pelangi yang menyerbu dari ufuk pantai Parai.
Pantai Parai, adalah sebuah pantai indah yang ber-karpet-kan pasir putih. Disana-sini dihiasi batu-batu granit besar. Alamnya yang bersih dan relatif tidak terlalu ramai, sangat nyaman untuk didatangi.
beberapa pejalan kaki tersenyum melihat gelak tawa kami berdua, Lin Hua menyanyikan senandung lagu cinta di pesisir telingaku.
“Ren, Suamiku sayang, apa arti diriku bagimu ?” tiba-tiba Lin Hua berbisik mesra di telingaku.
“Lin Hua adalah kebahagian, … cinta… orang yang ingin kujaga sampai mati… dan .. istriku tercinta..” kataku dengan nada yang sama pula, mesra.
Lin Hua tertawa senang. “Kau memang pintar menyenangkan hatiku, Sayang..”
Tak terasa, kami sudah hampir tiba di rumah.
Kulihat, ada seseorang yang menunggu kami sambil duduk di serambi depan rumah. Sosok pria berbadan tinggi tegap dengan kacamata hitam yang sangat kukenal. Mas Made ! Sepertinya dia datang sendiri.
Belum tuntas langkah ini menghampirinya, sosok familiar itu menyambut kedatangan kami dengan suka. Dari tangannya teracung selembar surat yang isinya entah apa. “Rendy.. Lin Hua.. ada kabar baik untuk kalian,” ujar Mas Dade.
Aku menyambut sapaan mas Made dengan gembira. “Lin, kenalkan, ini mas Made, rekan kerjaku.”
Lin Hua tersenyum sambil mengulurkan tangannya kepada Mas Made.
“Senang mengenalmu, Nyonya Ren..” seloroh akrab mas Made.
“Not yet…” sahut Lin Hua pelan. Wajahnya menyemburat kemerahan. Sementara tangan kirinya kian erat menggenggam tanganku.
“mmmm.. ada yang bisa sahabatmu ini bantu… my lord?”mas made bergaya bak bangsawan membungkuk dihadapanku.
“Ada.. minta kreteknya…?” balasku sambil tertawa geli. “Mana titipan mbak Kiko buat kita ?”
“sabarlah…”mas made tersenyum lebar sambil telunjuknya mengarah ke sebuah kotak yang ada di teras menghadap kelaut.
Mas Made melewatiku menuju kotak tersebut. Perlahan dia berbisik “Raymond sudah bergerak. Informanku mengabarkan bahwa dia mulai sering mengadakan kontak ke Pangkal Pinang. Dalam waktu dekat, mungkin orang-orangnya akan berdatangan kemari.”
Rasanya airmuka ku segera berubah muram. Kurasa Lin Hua demikian pula adanya. Genggaman tangannya pada semakin erat. Seolah takut akan terjadi sesuatu yang buruk.
“jangan khawatir, Lin Hua” bisikku sehalus dan selembut mungkin, untuk menenangkannya.
“Lin dan engkau Ren. Tentunya kalian menyadari bukan, bagaimana akibatnya bila status imigrasi Lin Hua tercium oleh yang berwenang..?” tanya mas Made.
Ku lihat, Lin Hua mengangguk pelan. Aku pun mengiyakan.
“Jadi, Lin Hua harus aman secara legalitas dulu, Mas ?” tanyaku.
“Yap! Semakin cepat kalian memiliki surat nikah, semakin aman status Lin Hua.” tegas mas Made. “Jangan sampai keduluan Raymond atau pihak yang berwenang. Kaliah harus lebih dulu memiliki legalitas. Dan kau tahu kan cara tercepat ?”
“Bukankah setia warga asing yang menikah dengan pria WNI akan menjadi WNI pula ?” sahutku. “Kalo begitu aku kunikahi Lin Hua, Mas..”
“Dan kapan kau akan mengurusnya, Ren ? Waktumu tak banyak. Sekali kau kalah cepat, berarti kau memberi peluang pada Raymond untuk menyerangmu lewat celah hukum imigrasi ..”
Aku terkejut. Belum ada persiapan apa-apa untuk itu.
Mas Made tertawa, “Aku tahu. Mbak Kiko pun sudah menduga hal ini. Maka dalam kotak ini, terdapat semua dokumen yang kalian perlukan. Semuanya sudah sah dan valid.”
“Maksud Mas Made ?” tanyaku tak paham. Mereka berdua seringsekali melakukan hal taktis diluar kemampuanku memprediksi. Disatu sisi ini membuatku kagum. Disini lain, terkadang membuatku pontang-panting harus mengikuti mereka.
“Nih lihat,” katanya sambil menyodorkan dokumen. Sebuah dokumen pernikahan sipil. “Secara catatan sipil, kalian sudah sah menjadi suami istri. Dan artinya, Lin Hua sudah sah tinggal dinegeri ini sebagai warga negara indonesia…”
Aku terkejut. Terus terang aku terharu dan gembira.
Kurasakan Lin Hua mendekapku dari belakang. Dia terisak. Isak tangis bahagia. “Terima kasih…. terima kasih..” ucapnya perlahan.
“Dan ini berarti celah hukum imigrasi yang mungkin akan dimanfaatkan Raymond untuk menyerangmu sudah tertutup. Thx to mbak Kiko yang mengurus segalanya..” kata mas Made sambil menghembuskan asap kreteknya.
“Terimakasih juga untuk mas Made…” kataku gembira.
“Namun Ren, ingat. Secara agama kalian mungkin belum diakui. Mau tak mau dalam waktu dekat ini, kalian harus menikah secara agama juga. Itu agar tidak menimbulkan kecurigaan. Paham ?”
“Ya Mas Made..”
Mas Made tertawa terbahak-bahak hingga kreteknya jatuh. “Selamat ya, kalian pasangan baru, Ren..Lin ..” katanya sambil menyalami kami berdua kembali.
Lin Hua tersenyum dalam sembab airmatanya. Wajahnya terukir kebahagiaanya yang tak terukur.
“Jadi Ren, berhubung aku sedang cuti seminggu. Mungkin aku bisa bantu persiapan pernikahan kalian. Jangan lupa kita masih berkejaran dengan waktu. Raymond dan ex-PEI sudah mulai bergerak..”
“Siap Mas.”
Malam harinya …
Seorang rekan wartawan dari bagian perang dan internasional ikut datang bergabung. Dia baru saja pulang meliput dari Irak, dan mengambil cuti. Mendengar masalah genting yang kuhadapi, solidaritas sebagai sesama wartawan muncul.
Paramitha Tunggadewi, namanya. Dia datang sekitar jam tujuh malam.
Dewi, panggilannya. Adalah seorang journalist wanita berusia sebaya denganku, sekitar 32 tahunan. Dia memiliki aura yang nyaris sama dengan mbak Kiko. Dan satu lagi yang kami heran, baik Par maupun mbak Kiko, waktu seolah terhenti pada usia 24 tahun.
Artinya, orang yang tak mengenal mereka dengan baik, biasanya akan menerka mereka masih semuda itu. Awet muda, awet ayu, namun dengan kebijakan dan kematangan seorang manusia berusia 30-40 tahunan.
Lin Hua, layaknya dengan mbak Kiko, cepat merasa akrab dengan wanita ini. Dengan segera mereka terlibat akrab dalam pembicaraan seputar mereka. Dan tentunya, Dewi juga tertarik mengetahui tantangan yang sedang kami hadapi.
Di ruang tengah yang nyaman dan berkarpet tebal, di depan perapian yang hangat, kami membahas rencana-rencana kedepan.
“Mas Made, jadi menurutmu, Raymond saat ini sudah mengetahui koordinat Lin Hua terakhir ?” tanya Dewi pada Mas Made.
“Yap” kata Mas Made sambil menuang Kopi Tubruk yang disiapkan Lin Hua. “Informanku melaporkan seperti itu. Dan aku sudah konfirm, validitasnya layak dipercaya”
“Raymond ini orang yang seperti apa, Lin ?” tanyanya kembali pada Lin Hua.
Lin Hua duduk disampingku, tepat bersebelahan dengan Dewi. Dari jarak sedekat ini, dapat kucium harum shampo dan sabun mandi dari tubuhnya.
“Raymond adalah orang yang sangat emosional dan tidak stabil. Dia tak pernah datang ke kelab Richard seorang diri. Apapun yang dia inginkan harus segera dituruti.” kisah Lin Hua sambil mengingat-ingat masa lalunya.
“I see, bagaimana menurutmu Ren ?” kali ini giliranku ditanyai oleh Dewi.
“He’s jerk, moron, sadis and very unstable.” sahutku kepada Dewi.
Semuanya tertawa lepas mendengar sahutanku. Mereka maklum, betapa jengkelnya aku kepada Raymond. Terutama atas semua yang telah aku dan Lin Hua alami.
“Sepertinya dia tidak terlalu lihai bermain taktik. Dia lebih memilih konfrontasi langsung kepada musuhnya ketimbang diplomasi maupun cara-cara lain, selain kekerasan. Mengingat latar belakangnya yang dimanjakan dengan uang orangtuanya…”
“Kecil kemungkinan dia akan menggunakan cara-cara politis dan hukum. Melihat deretan konfrontasi antara aku denganya selama ini, dia selalu menggunakan tenaga anak buahnya terlebih dahulu. Dia bukan seorang yang cukup gentle untuk maju di depan..”
“.. metode penyerangan properti seperti pembakaran rumah dan kantor merupakan cara favoritnya. Sepertinya ini mencerminkan watak ketidaksabarannya. Disamping itu dia juga menyukai penggunaan metode penyiksaan fisik, khas preman kelas teri…”
“.. dan satu yang aku tengarai, dia tipe orang yang tidak boleh diganggu egonya. Dengan kata lain, dia memiliki sebuah kelemahan, mudah di provokasi..” panjang lebar aku jelaskan penilaianku kepada mereka semua.
Dewi tertawa lebar setelah mendengar penjelasanku. “Bagaimana mas Made ? Kira-kira apa yang sedang dilakukan dan apa yang akan dilakukan Raymond terhadap mereka nantinya ?”
Mas Made menyedot kreteknya perlahan, “Raymond sedang sibuk mencari kepastian keberadaan kalian disini. Dalam waktu dekat, dia pasti akan kemari bersama sisa-sisa kekuatannya. Prakiraanku, Raymond akan tiba lebih cepat dibandingkan anak buahnya.”
Mas Made berhenti sejenak untuk menghisap kreteknya.
Kemudian ia melanjutkan, “Ada dua strategi yang kurasa bakal dia lakukan, pertama mencari lokasi vital kalian, kedua melakukan pembakaran dimalam hari. Kedua pola itu yang selama ini dia gunakan. Dan itu bisa berarti rumah atau kantor kita disini..”
“.. aku berani pastikan, bahwasanya saat ini dia akan berasumsi bahwasanya kalian akan ketakutan baik saat mengetahui kedatangannya maupun saat mengetahui kebakaran nantinya..”
“Jadi demikian kita sudah sedikit banyak mengetahui pola pemikirannya.” mas Made tersenyum puas. Dia mengamati air muka kami satu persatu. Setelah merasa cukup menyiksa rasa penasaran kami, dia pun melanjutkan ..
“Aku ada ide seperti ini..” dengan sebuah senyuman bak seorang jenderal, mas Made mengungkapkan strateginya, “Kita arahkan mas Made untuk melakukan kejahatan yang disaksikan oleh pihak yang berwajib secara langsung..”
Kami tertawa seketika.
Mas Made yang menyadari kesalahan ucapannya langsung tersipu malu.
“Maaf, sepertinya saya sudah mulai mengantuk” Dia tertawa lebar, “Begini. Kita pancing Raymond untuk melakukan kejahatan yang disaksikan oleh pihak yang berwajib secara langsung..”
“.. yaitu pembakaran. Maaf Lin, sepertinya kita harus menggunakan acara pernikahanmu sebagai perangkat menjebak untuk Raymond..” kata mas Made sambil melirik kami berdua.
Lin Hua menggeleng halus. “It’s okay.” katanya sambil meremas tanganku dengan manja.
“Agar lebih membakar, nanti kita provoke Raymond secara langsung. Kita balikkan prediksi Raymond. Saat ini Raymond pasti sedang berpikir bila kalian sedang panik ketakutan. Aku ingin tahu, bagaimana air muka Raymond..”
Tiga pasang mata memandang kesal kearah mas Made yang seolah-olah mempermainkan rasa ingin tahu kami.
Dengan kesal, Dewi menjewer telinga kiri mas Made, “Hentikan kebiasaan jelekmu membuat orang mati penasaran.. Lanjut !”
“Adudududuuh… iya Wi.. iya.. Sorry .. sorry…” mas Made tertawa puas sambil mengaduh kesakitan.
“Aku ingin tahu, bagaimana air muka Raymond, jika kalian menjemputnya di Airport. Mengajak bicara santai dan bahkan mengundangnya hadir ke pesta pernikahan kalian. Emosi dan cemburunya pasti akan meledak. Dan dia, akan masuk ke perangkap kita..”
“.. melakukan aksi kekerasan pembakaran dan penganiayaan di depan mata polisi..” sambung Dewi melanjutkan ucapan mas Made.
“Briliyan.. sejak kapan kau menjadi sejenius, sejahat dan selicik ini, mas Made ?” goda mbak Dewi.
“Anggap saja, kita satu perguruan.” balas mas Made jenaka. “Lagipula, aku belum selevel denganmu.. hahahaha…”
“Jadi Ren, kapan kau rencanakan pesat pernikahanmu ?” tanya Dewi kepadaku.
“Bagaimana kalo kita sesuaikan dengan tanggal kedatangan Raymond… Hmm malam hari setelah Raymond tiba disini ?” candaku menirukan lagak mas Made.
Kita pun tertawa bersama. Termasuk Lin Hua.
“Baiklah, kalian malam ini tidur disini ya… akan kusiapkan segalanya..” kata Lin Hua sambil beranjak berdiri.
“Menginap di rumah pinggir pantai parai yang indah ? Aku tak akan menolak tawaran itu..” kata Dewi sambil tertawa. “Thx ya Ren, Lin.”
Mas Made pun menyetujui usul Lin Hua tersebut. Malam itu kita habiskan dengan banyak bernostalgia bersama.
Dan kulihat, Lin Hua sudah seriang sebelumnya.
“Dia benar-benar telah terikat mati dengan mu Ren..” komentar Dewi, “Apa yang telah kaulakukan padanya ?”
“Kau ingin tahu aja urusan hati orang Wi,..” goda mas Made, “kenapa kau tidak mencari pasangan sendiri, agar lebih mudah menebaknya ?”
“OOoo.. kurang asem kau Made..” maki Dewi sambil mencubit mas Made keras-keras. “Bagaimana denganmu, bujang lapuk ?”
“Hehehe… Kau pikir orang kantor akan percaya kedatanganmu kemari hanya untuk menjenguk Ren ?” mas Made melanjutkan godaannya, “Bukannya kau kemari ingin melihatku ? Karena mengkhawatirkanku ?”
Hee… ? Benarkah ? Mereka berdua ? Aku nyengir tak percaya. Ternyata banyak perkembangan di kantor pusat selama setahun lebih kutinggalkan.
Dan begitulah ..
Pagi menjelang, dan malah kita habiskan dengan canda dan tawa. Esok, pertempuran mungkin akan dimulai.
*******************************.
Pagi itu kami berjalan-jalan di tepi pantai sambil menikmati sunrise di Pantai Parai. Hanya berdua saja, kuingin menikmatinya dengan Lin Hua.
“.. ini awal bagi kita ..”, katanya lagi sambil menggandeng lenganku.
Pagi ini dia terlihat begitu casual dan feminim. Kaus sporty dan celana pendek yang dikenakannya membungkus selmbar tubuh indah nan lencir. Lin, kau selalu nampak cantik, batinku sambil tersenyum padanya.
“Kali ini, aku akan ikut berjuang, Ren…” bisik Lin Hua mesra. Mata lentiknya memandangku bulat-bulat. Aku terpana.
“Lin.. ini berbahaya..” sahutku sedikit khawatir. “Aku tak ingin keselamatanmu terancam…”
“Kau tahu Ren…” sahutnya lembut. “Bagiku, mengetahui bahwa kau rela bertaruh nyawa untukku.. adalah hal yang sangat berarti bagitu..” Lin menatapku dan tersenyum dengan lembutnya “..terimakasih telah begitu menjagaku..”
“.. namun Ren.. sepertinya hal aku berharga bagiku.. kaupun begitu berharganya bagiku..” Lin berdiri menghadapku. Tanpa kusadar, kedua lengan halusnya telah melingkar di belakang leherku. “.. dan aku pun ingin menjagamu..”
“Tapi Lin.. aku tak ingin melihatmu terluka..”
“Dan aku pun tak ingin melihatmu terluka, Ren..” sahutnya.
“Seperti halnya kau menjagaku.. aku pun ingin menjagamu, sayangku, Ren.” airmukanya begitu serius. Rasanya dia telah bulat dengan keputusannya.
Kali ini, yang kulihat adalah sosok Lin Hua yang begitu mandiri, strong-willed, namun penyayang. Aku tahu, inilah wataknya yang membuatku jatuh hati padanya. Dia benar-benar memposisikan dirinya sebagai belahan jiwaku.
“Senang-susah, sedih-gembira, dan pahitnya perjuangan,.. kali ini kuingin merasakannya bersamamu. Kemanapun kau pergi, dan apapun keputusan yang kau ambil, aku, Lin Hua, istrimu, akan selalu disisimu, suamiku, Ren..” tandasnya lagi.
Aku menyerah.. “Baiklah, sayang..” kataku sambil tersenyum.
Lin Hua tersenyum padaku. Dia beringsut maju, dan ..
Dan detik berikutnya, siluet kami berdua telah menyatu dibawah temaramnya sinaran mentari pagi.
***
Buluh Tumbang Airport, Ujung Pandan, Pagi Hari.
Sesuai rencana yang disusun oleh Mas Made, kami akan memantik api dalam diri Raymond.
Raymond akan tiba pada penerbangan pertama hari ini, demikian informasi yang diperoleh mas Made dari jaringannnya. Jadi pagi ini aku akan memberinya sambutan hangat, dalam tanda kutip tentunya, kepada Raymond.
Kurapikan sedikit rambut dan kacamata hitamku. Dan kulirik Lin Hua. Seperti biasa, dia terlihat cantik dan menawan. Wajah orientalnya dihiasi oleh sepasang kacamata hitam dengan mode terbaru. Rambut pendeknya yang terbelah tengah laksana mahkota.
Sama sepertiku, dia mengenakan jaket dan jeans hitam.
Dia menoleh dan tersenyum manis padaku. “Show time, Ren, Suamiku…”
Di kejauhan, terdengar informasi kedatangan penerbangan pertama dari Jakarta.
Kulirik, Lin Hua terlihat sedikit tegang. Matanya memandangi para penumpang yang baru keluar dari dalam airport. Satu persatu. Dan dengan teliti.
Tak berapa lama, Lin Hua mulai beranjak. “Ayo Ren, mangsa kita sudah terlihat..” katanya bergegas. Dan kuikuti langkahnya. Perlahan, hingga setengah berlari.
Sesosok pria berusia sekitar 27 tahunan terlihat melangkah keluar bandara. Tubuh tambunnya kelihatan berpeluh. Beberapa kali dia menyeka keringatnya.
Hingga di depan sebuah Cafe, kami bertemu.
Kami berhadap-hadapan dalam jarak sekitar empat meter. Kulihat Lin Hua memandanganya dengan tajam. Ekspresinya dingin. Sebuah senyum yang dipaksakan terpajang di wajahnya.
Kalau begitu, saatnya aku beraksi, pikirku. “Yang Mulia Tuan Raymond dari PEI Jakarta. Senang sekali bertemu dengan anda..” sapaku dengan penuh percaya diri. Tanganku terulur, mengajaknya bersalaman.
Raymond terlihat terkejut. Wajahnya menampakkan raut muka yang luar biasa kagetnya. Tanpa sadar, bagpack yang dibawanya terjatuh. Dia mundur selangkah, tanpa sempat membalas uluran tanganku.
Aku tahu, Raymond terkejut. Dan kehilangan kendali atas situasi saat ini. Kehadiran ku dan Lin Hua di hadapannya secara mendadak ini tentunya tak pernah di sangka sebelumnya.
Kumanfaatkan peluang ini sebaik-baiknya, mematik emosi Raymond. “Kau masih ingatkan siapa dia ?” kataku sambil maju selangkah kepadanya. Tangan kiriku terbuka, secara tak langsung menunjuk kepada Lin Hua.
Lin Hua membuka kacamata hitamnya. Dia beranjak maju, dan merangkul pinggangku dengan mesra. Pamer kemesraan.
“Ow Raymond…” katanya. “Kutahu kau masih menginginkan ku…” Lin Hua melirik Raymond dengan lagak hostessnya. “Sayang… kau sama sekali bukan tipe ku, Raymond..”
Kulihat air muka Raymond berubah. Ada kemarahan yang timbul di balik dadanya. Dalam hati aku tersenyum. Api telah mulai kupantik, batinku berkata. Sekarang dia akan kumainkan sedikit,
Kusodorkan undangan pernikahan ku dengan Lin Hua. “Kami sampaikan undangan pernikahan kami, Bos Raymond. Kedatangan anda sangat kami harapkan..” kataku sambil tersenyum sinis.
Aku beringsut maju semakin mendekatinya. Kini, jarak ku cukup dekat untuk membisikkan teror halusku.
“Ya.. kutahu kau sangat menginginkannya…Raymond. Sayang sekali dia tak memilihmu.. Dia jauh lebih menginginkan diriku, ketimbang kau menginginkannya…”
“..nanti malam adalah pernikahan kami, Raymond. Dan dia akan menjadi milikku seutuhnya… Malam nanti, setelah pesta, akan kunikmati persembahan suci darinya, Raymond… Dan kuyakin, saat itu, kau sedang dipeluk dinginnya malam…”
Tangan kiriku memaksa Raymond menerima undangan yang kuserahkan padanya. Dan seperti yang sudah kuduga, ia menerimanya tanpa sadar. Kuyakin, terkejut serta amarah yang mulai muncul dalam benaknya telah membuatnya tak tahu harus bersikap apa.
“Ku undang kau untuk menyaksikan pernikahan kami, nanti malam Raymond. Datanglah bila kau cukup jantan untuk menelan pil pahit kekalahanmu..” kataku sambil beringsut mundur darinya. Sementara itu, senyum sinis masih kupasang diwajahku, menerornya.
“Kami pamit dulu, tuan Raymond..” kataku sambil terus menerornya. Kurangkul Lin Hua dengan mesra, dan menciumnya, tepat didepan mata Raymond.
Dengan sembunyi-sembunyi, kulirik ekspresi wajah Raymond. Sepertinya, sesaat lagi ia akan meledak…
“Kalian akan menyesali semua ini…” katanya dengan kemarahan yang meluap. “Tunggu saja… Lin Hua, kau akan sangat menyesali ini nanti… dan kau..” ungkapnya penuh kemarahan. Pandangan matanya penuh kekejian memandangku.
Dengan dingin aku berbalik dan berkata, “oh, sorry aku lupa mengenalkan diri..” Kurangkul pinggang Lin Hua mesra, sekadar untuk kian membuatnya marah, “..aku adalah Ren, journalis yang mungkin kau anggap iblis, biang kehancuran kenyamananmu, Raymond”
“Aku lah yang mengungkap semua aib PEI. Dengan kata lain, aku lah Ren, sang demon yang menjebloskan ayahmu ke penjara…” tukasku dingin sambil melambai pergi.
Aku yakin, ini adalah pukulan telakku padanya. Dan kuyakin pula, benak Raymond saat ini, laksana pulau kecil di terjang badai dan tsunami.
“Watch your back, Ren and Lin..” serunya geram.
Aku tersenyum dingin. Ku tahu misi kami sukses.
Kutinggalkan Buluh Tumbang Airport bersama Raymond yang murka disana. Bersama Lin Hua, istriku tersayang, kupacu vespaku pulang.
Saatnya melangkah pada rencana selanjutnya, menjebak Raymond.
***
Rumah kami di pantai Parai, Malam Pernikahanku dengan Lin Hua.
Rumah kami terlihat meriah. Puluhan relasi dan kolega datang berkumpul. Bahkan warga sekitar yang sudah seperti saudara ikut datang membantu.
Diantaranya kulihat ada Mas Made, Dewi, mbak Kiko dan suaminya, Rakryan Hanafi. Sementara Yon dan Zen, para sahabat bayanganku terlihat hadir pula. Tak lupa, Richard, mantan bos Lin Hua. Tak kurang hadirnya.\.
Konsep resepsi kami adalah Garden Wedding. Mbak Kiko yang mengurus semuanya, melalui Even Organizer kepercayaannya. Tentunya, dengan harga discount yang spesial. Meriah sekali. Halaman rumah mungil kami penuh sesak oleh para tamu.
Seluruh berdatangan hadir membantu mengurus ini-itu yang diperlukan. Mereka nampak turut berbahagia. Dan aku merasa sangat terbantu atas kehadiran mereka. Berulangkali kuucapkan rasa terimakasihku pada mereka.
Lin Hua nampak begitu disayang oleh mereka. Karakter aslinya yang lembut, care dan empati kepada sesama sangat menawan hati mereka. Tak heran, dalam waktu singkat, Lin Hua telah dikenal oleh warga sekitar. Dan segera menjadi kecintaan mereka.
Sementara itu, disekitar rumah kulihat banyak orang tak kukenal berbaju pesta. Mereka tampak hormat dan patuh terhadap Yon. Mereka pasti para aparat yang menjadi anak buah Yon. Bisa dipastikan, Yon menyetujui rencana kami, menjebak Raymond.
Aku tersenyum puas. Jebakan yang sempurna, pikirku.
“hadirin semua..inilah saatnya sang pengantin memberikan sebuah lagu cinta untuk kita semua”riuh tepuk tangan hadirin mengiringi langkahku menggapai tangan Lin Hua.
Lin Hua tersenyum manis dalam balutan gaun pengantinnya. Dia menoleh dan memandangku sambil tersenyum. “Lagu apa yang kau mau, suamiku ? Fly me to the moon ?” bisiknya mesra.
Aku tersenyum mengiyakan. “It’s our love song, Lin, my wife..”
dentingan suara piano mulai mengikat perlahan rona bahagia yang menyerap ke dalam tulang rusukku .
Dan kami nyanyikan melodi indah itu bersama. Melodi yang nanti akan kami dendangkan seumur hidup kami. Hingga maut memisahkan.
“dorr ..dooorr”seketika musik berhenti, semua mata mengarah ke segerombolan orang bersenjata yang datang secara tiba-tiba.
Werrrrr…. !!! Seseorang menyemburkan api dari sebuah senapan FireThrower yang besar. Seketika, api menggila.Melalap apapun yang ada. Kepanikan terjadi. Dan letusan pistol menyalak disana sini.
Dor !!!!
Dor !!! Duarr !!! Argggg…….. !!! Keluar-keluar… !!! Blarrrrrr !!!!
semua orang berhamburan menyelamatkan diri, suasana semakin kacau.
Dalam sekejap, rumah cinta kami terbakar habis. Aku hanya bisa memandangnya pilu bersama Lin Hua. Airmatanya semburat dalam pelukanku.
Ku lirik Yon. Dia mengangguk, paham akan maksud kami.
Asap hitam membumbung tinggi dilangit pantai Parai.
Yon beserta anak buahnya memberikan perlawanan kepada gerombolan raymond.
Tiba-tiba..
Bummmmm !!! Bumi bergoncang hebat.
Sebuah ledakan bom yang dahsyat. Melambungkan semua yang ada disana. Gelombang panas terasa begitu mengiris.
bersambung ke Chapter 7 “Crush Of Dragons”