Villain Love (PoH Chapter 4)
Tetesan darah mengaliri tanganku yang mendekap erat luka di tubuh Lin Hua.
Malam itu kuhabiskan dengan berada di sisi Lin Hua. Hanya itu menghapus kekhawatiran jiwanya terancam. Rasanya, aku sedang menebus dosaku pada Acha. Dosa tak mampu menyelamatkannya…
Dan malampun berlalu ….
Pagi yang cerah. Dua hari setelah kejadian itu.
Namun kini, rasanya begitu sempit dengan bertambahnya seorang penghuni baru, Lin Hua.
Ya Lin Hua, dua hari sebelumnya aku meng-evakuasi dia dari sebuah klinik setelah penyembuhan.
Khawatir Lin Hua masih diincar, aku memutuskan untuk membawanya ke kost ku. Aku merasa dia akan lebih aman disini. Dan juga aku bisa memastikan proses kesembuhannya.
Namun hal lain yang membuatku termangu, adalah tagihan operasi Lin Hua dan tagihan kerusakan Richard. Total mencapai delapan juta sembilan ratus.
Haaaah…. kuambil nafas berat. Setidaknya, aku masih lega. Lin Hua selamat. Dan rasanya aku mulai bisa membayar hutang perasaan bersalahku pada Acha.
***********************************************.
Kulirik Lin Hua, perutnya terbalut perban. Untung luka tusuk itu tidak dalam. Tidak sampai melukai lambung. Sebuah operasi kecil sudah cukup. Karena itu, klinik mengijinkanku membawanya pulang pada hari kedua.
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan bisa kejadiannya lebih serius lagi.
“..hmm….” kulihat Lin Hua mulai terbangun. “..dimana ini ?” Mata lentiknya melirik kearah jendela, dimana sang mentari tersenyum memberikan cahaya lembut pagi hari. “..kau ..?”
Trauma akibat penusukan membuat Lin Hua, banyak kehilangan darah dan pengaruh bius operasi, seperti membuat kesadarannya tersembunyi selama dua hari.
Aku merasa lega melihat Lin Hua telah memperoleh kesadarannya.
Aku bangkit dari dudukku di jendela. Perlahan kuhampiri Lin Hua yang masih silau terhadap sinar mentari pagi. Aku rasa sekarang dia sudah bisa melihat wajahku dengan jelas. “Ya Lin, Ini Aku. Sekarang kau di tempat. Disini aman…”
“..ren..?” Mata lentik itu berkedip-kedip terkejut. Wajah orientalnya menampilkan ekspresi seolah tak percaya. “..bagaimana..?”
Aku tersenyum padanya. “Dua malam kau tak sadar. Mengigau terus menerus…” Kusodorkan segelas air putih. “Minumlah.. “
Kubantu dia untuk sedikit bangkit. Dua buah bantal kuletakkan dibawah kepalanya. Lin Hua terlihat kesakitan saat mencoba bangkit. Namun tak menolak gelas yang kusuguhkan.
Diteguknya seluruh isi dalam gelas itu sampai habis. Kelihatannya Lin Hua begitu kehausan.
“Kau pasti lapar…”, kataku sambil mengambil menu khusus untuknya. Dokter di klinik tersebut telah memberitahuku, apa saja yang perlu disiapkan.
Lin Hua memandangku dengan canggung. Dan mengangguk perlahan.
Entah kenapa, yang kulihat saat ini adalah Acha yang sedang sakit. Tanpa kusadari lebih lanjut, tubuhku telah bekerja otomatis. Menyuapi Lin Hua !
Lin Hua terlihat terkejut. Namun rasa sakit karena luka diperutnya membuat dia tak kuasa meringis menahan nyeri. Dengan canggung diterimanya suapanku.
“..ren… apa yang terjadi setelah kebakaran di kelab Richard ? ada apa selama dua hari ini..?” tanyanya perlahan sambil mengunyah.
“Kau istirahatlah dulu….”, aku mengkhawatirkan kegusaran dirinya nanti akan memperlambat proses penyembuhan.
Lin Hua berusaha tersenyum sambil menahan nyeri, “Ren… katakan saja. Aku cukup kuat untuk mendengarnya. Banyak kejadian buruk dalam hidupku. Aku rasa kejadian ini bukan apa-apa..”
Hmm…. aku menghembuskan nafas panjang. Ya, kuakui. Terkadang aku sering merasa bila Lin Hua pernah mengalami masa-masa kelam. Tak ada gunanya aku menyembunyikan kejadian sebenarnya.
“Raymond, orang yang menusukmu, membakar kelab milik Richard. Kebetulan aku tahu ada klinik didekat tempat itu, jadi kau kubawa kesana. Sayang, kelab milik Richard tidak bisa diselamatkan lagi. Untuk tidak ada korban jiwa…” aku berhenti sejenak.
Kuamati perubahan air muka Lin Hua. “Kasihan Richard..” ungkapnya pelan.
“Kemarin aku sempat ketemu dengannya. Kita bersama menuju tempatmu indekost. Namun yang kami temui hanyalah tinggal puing sisa kebakaran. Semuanya ludes. Beberapa orang terpaksa dirawat di hospital karena luka bakar. Tak ada barang yang tersisa”
Kembali kuamati ekspresi wajah Lin Hua. Sedikit, dia terlihat terkejut dan sedih. Namun sebentar dia kembali menguasai diri. “Terimakasih telah menyelamatkanku Ren…”
“Sepertinya Raymond dan anak buahnya masih belum terima. Kemarin kulihat mereka masih berkeliaran di puing-puing kelab Richard dan sekitar tempatmu indekost…Mereka masih mengejarmu…”
Lin Hua menggeleng dengan sedih.
“Lin Hua, kau bisa tinggal disini semaumu. Tempatku memang jelek…” Kataku sambil kembali menyuapinya. “..namun setidaknya pikirkan dulu sembuhmu.. Disini aman. Tapi tidak diluar sana”…
Lin Hua menelan suapan terakhirnya. Kedua mata lentiknya memandangku tanpa kupaham maksudnya.
Buru-buru ku utarakan sesuatu, semoga dia tidak salah paham. “Jangan khawatir Lin.. aku sama sekali tidak bermaksud mengambil keuntungan dari keadaanmu. Dan aku bukan model pria bejat.” Kusodorkan gelas untuknya minum.
Lin Hua tertawa kecil. Diteguknya gelas yang kusodorkan. “Bekerja di kelab malam, aku jadi tahu mana orang yang tulus dan mana yang tidak Ren.” Dia meneguk seluruh isi gelas itu sampai habis. “Kau pria baik Ren.” Dan dia menatapku dalam.
Aku masih tak paham arti tatapan itu.
“Pertama kali aku bertemu denganmu, aku sudah bisa menebak kau itu tipe pria seperti apa.” lanjutnya sambil menelan obat dokter yang kuberikan. “kau adalah srigala kesepian yang terluka karena sesuatu hal..”
“Dan kau canggung dengan wanita. Caramu berinteraksi padaku sudah cukup jelas menyiratkan, bahwa kau tak terbiasa dengan keberadaan wanita di sekitarmu..”
Dor ! Tebakan Lin Hua seolah mengungkap semua topengku. “Meskipun aku tak merasakan bau wanita dari keberadaanmu, namun aku tahu sikap dan gerak tubuhmu menyiratkan kau memiliki seorang wanita dalam hati.. Dan dia adalah alasanmu melakukan semua ini”
BUll eyes ! Dia menembak tepat lagi rahasia diriku.
“Kau tahu Ren..” lanjut Lin Hua. “Karena itulah aku percaya padamu. Kau tak akan melakukan kebejatan apapun padaku.” Mata lentik Lin Hua menatap lembut padaku “Dan aku merasakan perasaan aman dan tenang dengan keberadaanmu…”
Rasanya, aku benar-benar telanjang di depan Lin Hua. Tak ada lagi rahasia yang mampu kusembunyikan. Kucoba tersenyum, namun rasanya akan terlihat pucat. “Tidur lah Lin… dan cepatlah sembuh..”
Kubantu dia untuk kembali berbaring. Lin Hua kembali menatapku dengan pandangan yang masih tak kumengerti..”Thank You Ren… You’re really my man…” godanya sambil mengedipkan mata.
“Tidurlah… bed rest.” kataku kembali.
***********************************************.
langkah kakiku bergetar meninggalkan Lin Hua yang tertidur pulas, malam ini tibalah saatnya aku menyusup mencari data.
Kulihat progress penyelidikanku sejauh ini.
PT PEI adalah sebuah perusahaan kontraktor dengan beragam bidang, kuaifikasi besar. Sahamnya dimiliki oleh dua orang. Saham terbesar dipegang oleh tuan Agustinus Luhur, seorang pengusaha terkenal. Dia memegang saham sebesar 51%.
Sisanya dimiliki tuan Rakyan Syahbandar. Seorang politikus terkenal.
Namun begitu, PEI bukanlah sebuah perusahaan yang sehat. Mereka tidak berdiri berdasarkan kemampuan sendiri. Proyek-proyeknya ditengarai merupakan hasil kolusi, korupsi dan penyalahgunaan wewenang.
Hm.. senyum sinisku terkembang. Benar-benar target empuk …
Aku tak perlu repot-repot menciptakan jebakan skandal. Yang kuperlukan hanyalah mengumpulkan fakta, mengangkatnya kepermukaan, kemudian membiarkannya dimangsa oleh aparat, pers dan sentimen masyarakat.
Sudah cukup banyak skandal beserta buktinya kukumpulkan. Yang kubutuhkan sekarang adalah… momentum yang tepat.
Bayangan Acha dan tragedi itu mendadak muncul dalam pikiranku.
Tinjuku mengepal keras. Sebuah tiang listrik tanpa dosa menjadi sasaran kegeramanku. Duang…. !!! Rasa sakitnya kembali membawa pikiran sehat kedalam ruang utama jiwaku.
Tangan-tangan jahat telah merenggut Acha. Bidadari malangku. Tangan-tangan jahat telah membuat warga pemukiman itu kehilangan rumahnya… Dan entah ada berapa lagi korban diluar sana yang aku tak tahu.
Dan aku tahu aktor dan dalang peristiwa tersebut tengah nyaman bersembunyi didalam singgasana PEI. Laksana ular tidur nyenyak dalam sarangnya.
Kan kubakar sarang semak itu hingga rata dengan tanah. Kemudian, saat para ular lintang pukang menyelamatkan diri, kuserahkan semuanya pada mekanisme jalanan. Entah apa yang nanti mereka alami, bukan urusanku…
Malam semakin larut. Dan Aku menghilang dibalik deretan kompleks perkantoran.
*******************************************.
Beberapa malam kemudian.
“Ren, Rakryan sedang asyik masyuk di sebuah diskotik.” Seorang informan bayaranku mengabari lewat telepon.
“Lokasi dan status ?”
“Biasa. Dan satu lagi, di ruang sebelahnya ada bandar narkoba sedang ‘cicip’ barang.”
They said only evil can see evil. Betapa sebuah kebetulan, Pikirku. “OK, thanks.” Kututup telponku.
“Yon, ini aku Ren. Ingat kakap yang kujanjikan ? Kalau kau tangkap dia, pangkatmu akan segera naik.” Gurauku lewat telepon. “Jangan lupa bawa unit psikotropika..” tutupku sambil tersenyum jahat.
Yon yang kuhubungi adalah seorang yang memiliki wewenang, dan telah lama mencari-cari bukti untuk menangkap Rakryan.
“Zen, kau temani Yon. Bakal ada headline besar besok pagi. Masih ingat bundelan data yang kuberikan ? Ini momentumnya.” Klik kututup teleponku dengan Zen, seorang relasi kentalku yang concern pada urusan kriminal.
Dan sekarang yang perlu kulakukan adalah memastikan segala berjalan sesuai alur yang kurancang.
Kuberjalan menuju ‘panggung pertunjukan’ di diskotik yang dimaksud. Rasanya jiwa serigalaku ingin melolong dibawah purnama malam ini.
*******************************************.
Esok paginya…
Masyarakat gempar ! Headline beberapa koran besar hari ini begitu menghebohkan.
“Skandal Moral Pejabat Tinggi”
“Penangkapan Bandar Besar dan Pejabat Tinggi”
dan seterusnya….
Sepanjang hari koran, radio dan televisi mengulang - ulang topik tersebut dari berbagai sudut pandang. Hingga mulai menyeret-nyeret PEI dalam pembahasan. Aku yakin, saat ini keributan besar tengah terjadi di kantor pusat PEI.
Aku tertawa dingin. Ini baru permulaan, kataku dalam hati.
“Mas Made, ingat wanita yang tempohari kita wawancarai ? Yang mengaku sebagai istri simpanan Rakryan ? Ya… besok bisa diangkat.” Klik, segera kututup teleponku.
Di negeri ini, petinggi yang memiliki dua orang istri adalah tabu dan dosa besar dimasyarakat, Pikirku. Mereka akan segera menjadi bulan-bulanan opini publik. Gumanku.
Sebuah perusahaan besar yang dibangun diatas pondasi rapuh kolusi, hanya berdasarkan pamor para petingginya. Bukan main. Negeri ini memang menyimpan banyak peristiwa lucu.
Seminggu kemudian…
Opini masyarakat semakin tidak terkendali. Dan mulai menarik perhatian concern beberapa pengamat persaingan usaha dan auditor akan existensi PEI.
Saatnya memainkan beberapa kartu besar, pikirku.
Beberapa kepincangan dan penyelahgunaan wewenang di berbagi proyek yang dibiayai oleh dana publik mulai kulempar pula ke publik. Semuanya lengkap dengan analisa dan data, termasuk rekaman video. Banyak sekali rekan relasi ku yang berminat membantu.
Demo para warga di berbagai tempat proyek yang kurang beres mulai bermunculan. Isue dan analisa para pengamat mulai bermunculan di depan publik. Suasana makin tidak menguntungkan bagi PEI.
Para penyelidik dan pihak berwenang mulai menyelidiki PEI. Dan akhirnya kulihat tuan Syahbanr Luhur menyusul rekannya ke balik terali besi.
Hampir seluruh proyek-proyek PEI yang berbau ‘amis’ dibekukan. Dan yang tragis, PEI dibekukan usahanya.
Banyak terjadi PHK.
Dan aku tahu, ini rentetan ulahku. Disaat ini aku merasa kosong. Disaat ini rasanya kedua punggungku telah tumbuh sayap-sayap demon. Dan wajahku, telah sama menyeramkannya dengan serigala.
Mungkin sama banyaknya dengan korban-korban yang berjatuhan akibat ulah PE.
**********************************************.
HAhahahaha…..Saatnya memukul para ular kecil yang tidak memiliki pelindung.
Dengan bantuan Yon dan Zen, tumpukan data, bukti dan rekaman akan dimainkan diatas panggung.
“Mbak Kiko, tolong dibantu ya, File kasus kecelakaan Acha beserta updatenya tolong diangkat lagi.” pintaku padanya.
Sepertinya semua berjalan sesuai skenario. Tim anti kriminal segera melakukan aksinya. Beberapa ’sweeper’ PEI diseret kebalik jeruji besi, dengan ancaman hukuman tembak.
Namun… disitulah kelengahanku.
Para ’sweeper’ yang belum terjamah melacak jejakku hingga ketempat persembunyianku.
Kami diserang, kost ku dibakar tanpa ampun.
PEI memang sebuah korporasi kuat yang memiliki jaringan dan pendukung yang banyak. Tak mudah menggoyangnya, keluhku.
Aku bangkit dari tidurku di lantai. Lin Hua terbangun dengan pucat pasi. Wajah orientalnya menyiratkan ketakutan yang tidak terperi.
Selimut basah segera kulingkarkan membungkus tubuh lencirnya. Lin Hua kubopong tanpa dia sempat menyadari apa yang terjadi.
Tangga turun kebawah telah dilalap api. Lamat-lamat ku dengar beberapa langkah menuju pintu. Aku makin ketakutan. Kuyakin, mereka adalah para ’sweeper’ PEI yang menuntut balas.
Diluar, kudengar kepanikan para warga dan tetangga yang mencoba menolong memadamkan api.
Langkah-langkah itu semakin dekat. Aku semakin cemas. Peluangku satu-satunya adalah terjun lewat jendela. Ini lantai dua Ren, benakku memperingatkan.
Persetan ! Aku tak peduli ! Aku tak ingin bertambah lagi jumlah orang yang menderita gara-gara aku. Keselamatan Lin Hua adalah prioritasku.
Dengan nekat aku meloncat. wuppps…
HAnya desau angin yang kurasa. Sedetik kemudian aku telah mencium tanah. Rasanya ada tulangku yang patah.
Warga yang melihat kejadian itu berhamburan menolong.
NAmun mereka kalah cepat dengan beberapa orang yang datang dan berusaha menghajarku dengan tongkat. Feelingku mengatakan itu tongkat besi.
Refleks, kutindih tubuh Lin Hua dengan badanku. Kusodorkan punggung dan bagian belakang tubuhku menjadi sasaran amukan mereka.
Buk BUk Buk… “argh..” erangku. Terus menerus. Rasanya di bagian tubuhku mulai terluka.
Sejenak para warga terdiam, masih tak percaya apa yang sedang terjadi. Namun sedetik kemudian, teriakan marah para warga menggema melihat kesadisan itu.
Dengan susah payah kulirik, sekadar ingin tahu apa yang terjadi. Rupanya sedang terjadi pengeroyokan. Warga yang marah mengeroyok para sweeper itu.
Dan aku tak ingat apa-apa lagi. Rasa sakit yang memuncak merenggut kesadaranku.
Aku tak ingat apa-apa lagi.
************************************************.
Dimana ini ?
“Arg!” Sekujur tubuhku terasa sakit semua.
Putih ! Aku berada diruangan yang berwarna putih. Dimana ini ?
Kulihat tangan dan kakiku diperban semua. Nyeri sekali. Kurasa aku menderita trauma tulang. Dan..”Arg..” punggungku terasa sakit. Wajahku juga, rasanya bengkak.
Ya ampun, rasanya sekujur tubuhku dibebat perban. Mungkin tampangku sudah mirip mumi kali ini.
“Kau sudah sadar, Ren ?” tanya seseorang disebelah kananku. Aku tak dapat melihat karena tertutup oleh buket bunga yang menumpuk. Bunga ? Siapa yang mengirim ?
Suara itu ! Aku mencoba tersenyum dan bangkit. “Argh..” rasanya nyeri sekali. Bajingan sweeper itu sama sekali tidak menyianyiakan kesempatan, keluhku dalam hati.
Perlahan wajah sang pemilik suara itu muncul dari balik tumpukan bunga. Mbak Kiko !
“Relaks Ren…” kata mbak Kiko kembali. Pagi ini dia mengenakan busana resmi kantorannya, blazer grey dengan hotspan. Rambutnya digulung keatas, dengan kacamata fashion yang bertengger di matanya.
“Aku sudah dengar semua kejadiannya lewat si Made. Dia ceritain semuanya.” Mbak Kiko memperbaiki posisi kacamatanya. “Ya, mereka bukan tipe yang bisa diajak bicara dengan bahasa kata-kata. Namun fisik.”
“Setelah perusahaan tempat mereka berlindung kau `hancurkan`, dan seluruh pimpinan PEI yang menanggung seluruh hajat hidup mereka dipenjara, mereka seperti kehilangan arah.”
“Dan mereka secara serampangan berhasil menghubungkan kau dengan sumber permasalahan ini. perutama ketika kasus pembunuhan Acha terangkat kembali.”
“Secara membabi-buta mereka menghancurkan semua yang berhubungan dengan mu, termasuk kantor kita, Ren” mbak Kiko tersenyum.
“Jadi kuanggap itu sebagai tantangan terbuka untukku.” mbak Kiko mengambil kursi untuk duduk. “Mereka tak tahu sedang berurusan dengan siapa…hehehe…”
Aku tersenyum kecut. Ya mereka berurusan dengan orang yang salah. Apalagi setelah backup mereka tiada semua.
“ehh Lin Hua mana mbak?”tanyaku.
“He…. Ren… aku yang ingin bertanya duluan…” mbak Kiko menyodorkan wajahnya ke dekat wajahku. “Siapa dia, Ren ?” tanyanya sambil tersenyum menggoda.
“Ren bocah nakal..” kembali dia menggodaku. Kali ini dia menjewer kupingku, seperti biasanya, memperlakukanku seperti anak kecil. “Seleramu boleh juga…, Ren..”
“dia yang selama ini menjadi sumber informasi kita mbak”kucoba bangun dari tempat tidur, rasa perih masih terasa di punggungku.
“Heeeeeeeeeeeeeeeeeeee……” mbak Kiko nyengir. Dia semakin semangat menggodaku.
Wanita cantik yang masih terlihat sangat mudah diusianya yang ke-38 ini menatapku dengan penuh selidik. “…. tapi dia tipe yang jauh berbeda dengan Acha…” Seringai nakalnya muncul kembali, “ceritakan semuanya padaku, Ren !”
Haah… aku mengambil nafas panjang. Tak mungkin menyembunyikan berita sekecil apapun dari incaran redaktur senior seperti mbak Kiko.
“tapi..Lin Hua dimana mbak yaa?”tanyaku lagi kepada mbak kiko yang sibuk dengan hisapan cigaretnya.
“Nyonya, mohon sigaretnya dimatikan. Akan lebih baik bagi pasien” tegur seorang suster lembut.
Mbak Kiko segera mematikan sigaretnya. Tampangnya tampak jutek. “Ok, No Problem”
“Lin Hua sudah saya asingkan di pulau bangka?”mbak kiko menarik nafas dalam-dalam”kau bisa menyusulnya ren”
“Kita berangkat sekarang mbak!” sahutku cepat.
“bukan saya”mbak kiko tersenyum”tapi kamu sendiri ren..”
“Sepertinya itu akan lebih membuatmu bersemangat Ren” sahut mbak Kiko sambil tersenyum. “Tiket dan segalanya akan kupersiapkan.”
“So… tell me.. what is Lin Hua for you ? Lover ?” tanya mbak Kiko.
“No..”
“I just can not leaver her in this dangerous game. I drag her into this. So I must take responsibility..” sambungku.
“Well… that’s is so-alike-you, Ren…” sahut mbak Kiko “mengambil seluruh tanggung jawab di pundakmu sendiri…”
“Kalo begitu, tolong bantu aku mengembangkan cabang koran baru kita di daerah Bangka, Ren” katanya tegas. “Lin Hua sudah kuamankan disana. Untuk sementara, dia aman dari jangkauan PEI dan antek-anteknya. Terutama Raymond yang masih bebas berkeliaran”
“Kau tahu Ren…?” sambung mbak Kiko perlahan. “Aku merasakan bahwa Lin Hua memiliki masa lalu yang sangat berat. Bila suatu saat kau jatuh cinta padanya… bersiaplah…” kata mbak Kiko pelan. Wajahnya terlihat prihatin. “Kau tahu ? Intuisi wanita.”
“Yeah… I do feel too…” kataku santai. “Beside, I still can not forget Acha…”
“kau harus lebih menghargai sebuah proses, bukan hasil akhir ren?”nasehat mbak kiko.
“Yeah, sure…” sahutku pelan. Sepertinya aku mulai merindukan nikotin…
“Well, I take my leave now…. See you Ren… Take Care…” pamit mbak Kiko sambil beranjak pergi.
“See you too…”
ku benamkan kepalaku di bantal, bayangan senyuman Acha masih menutupi teduhnya pandangan mata Lin Hua.
“Oh yeah…. Don’t bother about the bill, Our company has take care for you..” katanya sambil nyengir..
Aku tertawa sambil melambai. “Thank You bos…”
bersambung ke chapter 5 “Cursed Past Time“